Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts
Sunday, 6 July 2014
0
Sunday, 6 July 2014
Unknown
Menulis puisi tentang cinta memang menakjubkan. Cinta, pada akhirnya, selalu ingin menegaskan warnanya diantara ragam suasana hati, kegelisahan, harapan dan kerinduan. Dalam puisi, sehebat apapun kerinduan dan kegelisahan cinta manusia terhadap sesama dan Tuhan-Nya, selalu menemukan tempatnya yang ramai dan leluasa dalam tafsir dan makna. Meskipun tohpada akhirnya, kegelisahan manusia–seperti halnya kerinduan–selalu tak pernah usai, selalu tak kunjung selesai, dan kemudian puisi mengabadikannya menjadi lembaran makna yang selalu mengalir, meriak, bergelombang dalam bermilyar tafsir dan pengalaman pembacanya.
read more
Puisi: Kasidah Cinta
Menulis puisi tentang cinta memang menakjubkan. Cinta, pada akhirnya, selalu ingin menegaskan warnanya diantara ragam suasana hati, kegelisahan, harapan dan kerinduan. Dalam puisi, sehebat apapun kerinduan dan kegelisahan cinta manusia terhadap sesama dan Tuhan-Nya, selalu menemukan tempatnya yang ramai dan leluasa dalam tafsir dan makna. Meskipun tohpada akhirnya, kegelisahan manusia–seperti halnya kerinduan–selalu tak pernah usai, selalu tak kunjung selesai, dan kemudian puisi mengabadikannya menjadi lembaran makna yang selalu mengalir, meriak, bergelombang dalam bermilyar tafsir dan pengalaman pembacanya.
Dalam puisi, manusia selalu menegaskan kesadarannya dengan cara yang terbaik. Manusia sadar bahwa ia tidak sempurna, maka ia mesti mengenali potensi untuk memperbaikinya. Manusia selalu bergerak dalam petak-petak makna.
Manusia, bisa berarti kuat, hidup, dan baik; bisa juga berarti lemah, kecil dan kotor. Kesadarannya yang luas tidak dengan serta merta membebaskan keterbatasannya. Di hadapan Tuhan, keterbatasannya selalu berarti cemas, takut, cinta, harap, manja, rindu, mesra, takjub dan sebagainya dan sebagainya. Lalu Tuhan “menari” mengikuti warna “nyanyian” manusia.
Betapa Tuhan Maha Sempurna. Ia mencintai manusia lebih sempurna dibanding cinta manusia terhadap-Nya. Tuhan ada dan tumbuh dalam hati manusia bukan dalam bingkai rasa marah, kalah, putus asa, dan benci; Ia tumbuh dalam suasana cinta, intim dan mesra. Bagi saya, puisi menjadi salah satu “dzikir yang cerdas” bagi manusia untuk lebih dekat dan mesra dengan Tuhan.
Maka dalam puisi, manusia menerjemahkan Tuhan bukan lagi sesuatu yang baku dan beku, jauh dan asing, besar dan kekar; tetapi sesuatu yang sangat dekat dan intim, seperti Kekasih; kekasih yang mungkin berulangkali dikhianati, tetapi akan tetap Ada diurat nadiku, di urat nadimu…
Kasidah Cinta
Rekah malam yang tumbuh masih meruncingkan batinku yang dingin
Memunguti hikmah dari setapak isyarat menuju surau-surau ketabahan
Kau menjelma tangan-tangan gaib yang menutup pintu-pintu keluh kesah
Mengalirkan arus cahaya yang merunduk di reranting keheninganku
Menyimpan ziarah doa-doaku pada garis-garis panjang kepedihan
Memunguti hikmah dari setapak isyarat menuju surau-surau ketabahan
Kau menjelma tangan-tangan gaib yang menutup pintu-pintu keluh kesah
Mengalirkan arus cahaya yang merunduk di reranting keheninganku
Menyimpan ziarah doa-doaku pada garis-garis panjang kepedihan
Lentik jarimu yang mempermainkan senja, masih saja menguji tafakurku
Bertahun melupakanmu dan kau tak henti menyimpan kejernihan hatimu
Bertahun melupakanmu dan kau tak henti menyimpan kejernihan hatimu
Lalu aku dzikirkan sunyi pada lembaran langitmu yang maha sepi
Senja menyusun rindu yang menyala dalam rakaat kesendirianku
Hujan masih kau susun dan aroma bismillah merambah akar imanku
Kau uraikan rambut hitammu pada sudut-sudut mata hatiku yang letih
Sebelum akhirnya kesedihan perlahan memudar dalam sujud kesadaranku
Senja menyusun rindu yang menyala dalam rakaat kesendirianku
Hujan masih kau susun dan aroma bismillah merambah akar imanku
Kau uraikan rambut hitammu pada sudut-sudut mata hatiku yang letih
Sebelum akhirnya kesedihan perlahan memudar dalam sujud kesadaranku
Lentik bulu matamu yang memilah musim, masih saja menguji ibadahku
Bertahun meninggalkanmu dan kau tak henti menunggu kejernihan imanku
Bertahun meninggalkanmu dan kau tak henti menunggu kejernihan imanku
Sumedang, 15 April 2011
Friday, 20 May 2011
0
Friday, 20 May 2011
Unknown
read more
Puisi: Di Jalan Yang Menikung
Hari pun mengecil dan teduh
Gerimis menepis saujana
Gerimis menepis saujana
Langit yang sembunyi
Mempererat risau
Mempererat risau
Di jalan yang menikung
Daun-daun meramalkan cuaca
Ketika burung-burung mengejar musim
Kita gemetar mengatur letak usia
Daun-daun meramalkan cuaca
Ketika burung-burung mengejar musim
Kita gemetar mengatur letak usia
Hidup hanya menyusuri kerikil takdir
Dengan kaki telanjang
Dengan kaki telanjang
Waktu pun bisu
Tak berpintu
Tak berpintu
Bandung, 20 Mei 2011
Friday, 8 April 2011
0
Friday, 8 April 2011
Unknown
read more
Puisi: Mimbar Para Penyair
Ingin kami susun dalam barisan puisi
Tentang resah yang tak bisa terwakili amarah
Ingin kami himpun dalam barisan puisi
Tentang lebam sungkawa dalam peristiwa
Ingin kami rangkum dalam barisan puisi
Tentang jiwa yang terpenjara jelaga luka
Tentang resah yang tak bisa terwakili amarah
Ingin kami himpun dalam barisan puisi
Tentang lebam sungkawa dalam peristiwa
Ingin kami rangkum dalam barisan puisi
Tentang jiwa yang terpenjara jelaga luka
Hayatilah takdir kegelisahan para penyair
Mata hati dibalik pintu-pintu hari yang terkunci
Sungai-sungai kesadaran yang bermuara lautan
Sebilah renungan bagi daging mentah kehidupan
Memburu rindu dalam hingar makna tanpa dasar
Debur cahaya dalam dengkur sang penguasa
Mata hati dibalik pintu-pintu hari yang terkunci
Sungai-sungai kesadaran yang bermuara lautan
Sebilah renungan bagi daging mentah kehidupan
Memburu rindu dalam hingar makna tanpa dasar
Debur cahaya dalam dengkur sang penguasa
Dan ingin kami catat dalam barisan puisi
Tentang dunia yang hampa nan dahaga
Menanam benih makna dalam jejak yang fana
Sebelum remah-remah usia yang perlahan punah
Sebelum riuh rendah kata yang kemudian musnah
Tentang dunia yang hampa nan dahaga
Menanam benih makna dalam jejak yang fana
Sebelum remah-remah usia yang perlahan punah
Sebelum riuh rendah kata yang kemudian musnah
Berlayarlah dalam cakrawala berjuta prahara
Berlayarlah dalam belantara berjuta cuaca
Lalu huruf-huruf berbaris mengarungi ribuan ingatan
“Kesaksian yang tak pernah mati dikabarkan
adalah puisi zaman yang tak akan henti diwariskan”
Berlayarlah dalam belantara berjuta cuaca
Lalu huruf-huruf berbaris mengarungi ribuan ingatan
“Kesaksian yang tak pernah mati dikabarkan
adalah puisi zaman yang tak akan henti diwariskan”
Bandung, 08 April 2011
Friday, 1 April 2011
0
Friday, 1 April 2011
Unknown
read more
Puisi: Risalah Senja
Ada rindu yang terselip
di saku baju kotorku
Kau mencucinya
seperti ringkih hujan
mencaci sunyi
di saku baju kotorku
Kau mencucinya
seperti ringkih hujan
mencaci sunyi
Ada doa yang membekas
di ujung sapu tanganmu
Aku melipatnya
seperti desis hari
menyusun cuaca
di ujung sapu tanganmu
Aku melipatnya
seperti desis hari
menyusun cuaca
Ada mimpi yang tersisa
dalam secangkir kopiku
Kau mereguknya
seperti dengus jam
menghalau kenangan
dalam secangkir kopiku
Kau mereguknya
seperti dengus jam
menghalau kenangan
Ada usia yang memutih
dalam sekeranjang ingatan
Kita terbaring gemetar mendekapnya
Seperti merasa ada sebilah tuhan
diurat nadiku, diurat lehermu
dalam sekeranjang ingatan
Kita terbaring gemetar mendekapnya
Seperti merasa ada sebilah tuhan
diurat nadiku, diurat lehermu
Sumedang, 01 April 2011
Monday, 22 March 2010
0
Monday, 22 March 2010
Unknown
Di tanah yang akan punah ini usia kita tumbuh dan rubuh
Ia seperti daun-daun hari yang memutih disembelih matahari
Rumah bagi riwayat kita bangun di atas sepetak keluh kesah
Menabung mimpi yang sepi di tahun-tahun yang tenggelam
Membenahi rencana di lembaran-lembaran musim yang fana
read more
Puisi: Tafakur
Di tanah yang akan punah ini usia kita tumbuh dan rubuhIa seperti daun-daun hari yang memutih disembelih matahari
Rumah bagi riwayat kita bangun di atas sepetak keluh kesah
Menabung mimpi yang sepi di tahun-tahun yang tenggelam
Membenahi rencana di lembaran-lembaran musim yang fana
Di sinilah di taman purba dunia dahaga iman mengendapkan jelaga
Tafakur kita tersungkur dalam legam sunyi dan misteri
Merangkak di setapak puisi memunguti remah-remah cahaya
Hayatilah nyala kegelisahan yang tak pernah selesai ini
Dengan cinta kita pertautkan temali mimpi pada tiang-tiang zaman
Tafakur kita tersungkur dalam legam sunyi dan misteri
Merangkak di setapak puisi memunguti remah-remah cahaya
Hayatilah nyala kegelisahan yang tak pernah selesai ini
Dengan cinta kita pertautkan temali mimpi pada tiang-tiang zaman
Di sinilah di kebun kepedihan kita tanam benih-benih permenungan
Dan kita pergilirkan silsilah rindu yang tak pernah menyerah
Doa-doa kita dilipat seperti surat yang terkirim tanpa alamat
Ia seperti pohon yang menjulurkan lidahnya pada warna langit
Dengan akar ketabahannya kita lebur dalam sujud yang teduh
Dan kita pergilirkan silsilah rindu yang tak pernah menyerah
Doa-doa kita dilipat seperti surat yang terkirim tanpa alamat
Ia seperti pohon yang menjulurkan lidahnya pada warna langit
Dengan akar ketabahannya kita lebur dalam sujud yang teduh
Di tanah yang akan punah ini usia kita tergusur dan terbujur
Waktu perlahan akan meredup menutup pintu-pintu masa lalu
Jiwa yang berabad kita dzikirkan akan hilang dan berakhir
Hayatilah nyala kegelisahan yang tak pernah selesai ini
Sebelum kita runtuh dan terbunuh tanpa menyisakan makna
Waktu perlahan akan meredup menutup pintu-pintu masa lalu
Jiwa yang berabad kita dzikirkan akan hilang dan berakhir
Hayatilah nyala kegelisahan yang tak pernah selesai ini
Sebelum kita runtuh dan terbunuh tanpa menyisakan makna
Bandung, Februari 2010
Thursday, 18 February 2010
0
Thursday, 18 February 2010
Unknown
Hidup ini adalah selembar puisi yang sunyi
kata-katanya bergulir dalam tafsir dan takdir
basah oleh gerimis air mata dan cinta
mengering dalam kepungan seribu musim
dan kesepian, ya Rahman ya Rahiim…
read more
Puisi: Hadirlah di Rumah Hati Kami
Hidup ini adalah selembar puisi yang sunyikata-katanya bergulir dalam tafsir dan takdir
basah oleh gerimis air mata dan cinta
mengering dalam kepungan seribu musim
dan kesepian, ya Rahman ya Rahiim…
Betapa jiwa kecewa memungut rencana, ya Khabiir,
usia yang dahaga di dera berjuta rahasia
Gelisah, iman yang terbaring lelah
diantara ranum tabah dan amarah
Hanya Engkau, hanya Engkaulah muara risauku
usia yang dahaga di dera berjuta rahasia
Gelisah, iman yang terbaring lelah
diantara ranum tabah dan amarah
Hanya Engkau, hanya Engkaulah muara risauku
Inilah dunia yang fana, rapuh dalam sentuhan tubuh
Iman yang mudah kalah dalam hasut bisikan
Hati yang mudah pecah dalam rayu bayangan
Hadirlah, Ya Allah, hadirlah di rumah hati kami
Ajari kami memaknai rahasia siang dan malam…
Iman yang mudah kalah dalam hasut bisikan
Hati yang mudah pecah dalam rayu bayangan
Hadirlah, Ya Allah, hadirlah di rumah hati kami
Ajari kami memaknai rahasia siang dan malam…
Sumedang, Februari 2010
Monday, 15 February 2010
1
Monday, 15 February 2010
Unknown
Hari ini, aku menemukan wajahmu diantara ribuan garis hujan.
Suara gerimis terdengar miris menabuh bumi yang makin memburuk ini.
Ah, cinta kita, kelak akan makin sempit menikmati wajah dunia,
jarak kita akan semakin dingin dan menganga dalam kata-kata…
read more
Puisi: Ketika Hujan, Tentang Kegelisahan
Hari ini, aku menemukan wajahmu diantara ribuan garis hujan.Suara gerimis terdengar miris menabuh bumi yang makin memburuk ini.
Ah, cinta kita, kelak akan makin sempit menikmati wajah dunia,
jarak kita akan semakin dingin dan menganga dalam kata-kata…
Dengarlah, lihatlah, usia alam telah memendam dendam pada manusia
Air sungai yang kotor meluap ke rumah-rumah, mengendap dalam tidur kita,
dan pohon-pohon tumbang menghadang jalan, ribuan tumbuhan rusak
Sampah-sampah pamplet iklan dan politik menutupi lubang-lubang selokan dan pikiran kita
Pabrik tak henti mengalirkan gelombang limbah pada hati kita
Bumi sudah sakit, langit sudah terasa pahit di lidah harapan kita
Air sungai yang kotor meluap ke rumah-rumah, mengendap dalam tidur kita,
dan pohon-pohon tumbang menghadang jalan, ribuan tumbuhan rusak
Sampah-sampah pamplet iklan dan politik menutupi lubang-lubang selokan dan pikiran kita
Pabrik tak henti mengalirkan gelombang limbah pada hati kita
Bumi sudah sakit, langit sudah terasa pahit di lidah harapan kita
Kita begitu resah dalam putaran zaman
Cinta kita terhimpit, waktu telah merampok usianya yang panjang
Cinta kita terhimpit, waktu telah merampok usianya yang panjang
Aku masih saja merindukanmu, di sini, diantara putaran malam dan siang yang terasa singkat
Mimpiku dicekik detik-detik, dicambuki hari-hari, doaku memekik di bawah terik matahari.
Aku gemetar menyulam cinta dalam gemuruh roda raksasa ekonomi yang keras menggilas nasib
Berjalan ringkih dalam nyanyian sedih kaum penganggur yang membeli harapan dengan
setumpuk amarah dan keputusasaan, terasing dalam jiwanya sendiri.
Mimpiku dicekik detik-detik, dicambuki hari-hari, doaku memekik di bawah terik matahari.
Aku gemetar menyulam cinta dalam gemuruh roda raksasa ekonomi yang keras menggilas nasib
Berjalan ringkih dalam nyanyian sedih kaum penganggur yang membeli harapan dengan
setumpuk amarah dan keputusasaan, terasing dalam jiwanya sendiri.
Jiwaku dijajah berjuta wajah dalam koran-koran dan majalah
Aku murung dalam sihir sinetron dan film-film
Masa depan yang rumit dan mahal, Sayangku, betapa
cinta kita dibuatnya resah dan mengalah.
Aku murung dalam sihir sinetron dan film-film
Masa depan yang rumit dan mahal, Sayangku, betapa
cinta kita dibuatnya resah dan mengalah.
Hujan masih saja turun deras dalam pikiranku.
Air sungai yang kotor meluap dalam puisiku.
Aku berselisih dengan kemungkinan dan misteri.
Tak henti melempar dadu di atas lingkar rindu yang terbakar.
Betapa kita hidup di dunia yang mendidik cinta terbiasa patuh pada sengketa dan harta.
Air sungai yang kotor meluap dalam puisiku.
Aku berselisih dengan kemungkinan dan misteri.
Tak henti melempar dadu di atas lingkar rindu yang terbakar.
Betapa kita hidup di dunia yang mendidik cinta terbiasa patuh pada sengketa dan harta.
Di sini, hujan masih saja turun deras, Sayang
Air sungai berlumpur masih meluap dalam puisiku.
Angin memangkas dedaun dan kata-kata.
Cinta kita tak henti menggigil dalam dingin usia…
Air sungai berlumpur masih meluap dalam puisiku.
Angin memangkas dedaun dan kata-kata.
Cinta kita tak henti menggigil dalam dingin usia…
EFM/ Cimahi, Februari 2010
Thursday, 28 January 2010
0
Thursday, 28 January 2010
Unknown
read more
Puisi: Puisi Cinta dan Mata Hati
Berjanjilah padaku, kau akan merindukanku seharum hujan dalam puisi
Jarak kita, sayang, riak cinta membayang dalam doa dan kalam
Masih aku dzikirkan rindu ini, lirih ketika jiwa hampir berdebu dan membatu
Jarak kita, sayang, riak cinta membayang dalam doa dan kalam
Masih aku dzikirkan rindu ini, lirih ketika jiwa hampir berdebu dan membatu
Lihatlah kerling langit yang hening, derit kata melunta dalam cuaca
Kita mengecil dalam rahasia, usia menggigil dalam bahasa
Hidup adalah deru yang menyimpan seribu jalan menikung.
Di sanalah, kau dan aku, bersahutan tanpa sentuhan dan perjumpaan
Kita hanya hadir dalam gulir ingatan yang deras pada
napas hujan dan hempas bayangan.
Kita mengecil dalam rahasia, usia menggigil dalam bahasa
Hidup adalah deru yang menyimpan seribu jalan menikung.
Di sanalah, kau dan aku, bersahutan tanpa sentuhan dan perjumpaan
Kita hanya hadir dalam gulir ingatan yang deras pada
napas hujan dan hempas bayangan.
Aku takut, keberanianku ditelan kabut semudah nyawa direnggut maut
Jauh tertinggal, lenguh sesal tersengal seperti temali ajal di leher kekal
Aku seperti telah kehilanganmu sebelum sempat menjumpaimu
Telah muram mimpi dalam kasidah sepi ketika wajah tengadah
menerjemahkan lelah dan kalah
Jauh tertinggal, lenguh sesal tersengal seperti temali ajal di leher kekal
Aku seperti telah kehilanganmu sebelum sempat menjumpaimu
Telah muram mimpi dalam kasidah sepi ketika wajah tengadah
menerjemahkan lelah dan kalah
Terpejamlah, terpejam seperti mata malam yang sunyi
Betapa mata hati memiliki berjuta pandang pada hakikat
Kerinduan adalah rekah keindahan, cinta adalah kekuatan
Maka Kita pun begitu dekat mempererat isyarat,
Jiwa pun meringkas batas-batas cemas dan kesedihan.
Nyanyimu mengkristalkan bunyi yang pejal dalam lengang sunyiku
Aku bangkit dari langit yang sempit, mendekap suaramu dalam temaram
“Harapan adalah nyanyian kehidupan,
sentuhan tangan-tangan Tuhan dalam kesunyian…”
Masih mengalir rindu ini, meski ringkih dalam tabir hati yang sendu dan sunyi
Betapa mata hati memiliki berjuta pandang pada hakikat
Kerinduan adalah rekah keindahan, cinta adalah kekuatan
Maka Kita pun begitu dekat mempererat isyarat,
Jiwa pun meringkas batas-batas cemas dan kesedihan.
Nyanyimu mengkristalkan bunyi yang pejal dalam lengang sunyiku
Aku bangkit dari langit yang sempit, mendekap suaramu dalam temaram
“Harapan adalah nyanyian kehidupan,
sentuhan tangan-tangan Tuhan dalam kesunyian…”
Masih mengalir rindu ini, meski ringkih dalam tabir hati yang sendu dan sunyi
Berjanjilah padaku, kau akan menemaniku sehalus jingga dalam senja
Dan hati kita, sayang, serupa kata dan makna, tak henti mengurai arti dan pesan
Betapa ingin aku datang padamu dan menikahi wajah hatimu
Maka terpejamlah, terpejam seperti mata malam yang sunyi…
Dan hati kita, sayang, serupa kata dan makna, tak henti mengurai arti dan pesan
Betapa ingin aku datang padamu dan menikahi wajah hatimu
Maka terpejamlah, terpejam seperti mata malam yang sunyi…
EFM/CIMAHI, JANUARI 2010
Sunday, 24 January 2010
0
Sunday, 24 January 2010
Unknown
read more
Puisi: Puisi dalam Renungan
Kutulis cintaku dalam puisi ini
agar kelak ia tetap hidup sebagai
kenangan yang tak akan hilang dalam
kerapuhan usia dan bisikan
agar kelak ia tetap hidup sebagai
kenangan yang tak akan hilang dalam
kerapuhan usia dan bisikan
Puisi adalah anak-anak kita
Mereka tak hanya akan
menghibur kita dalam kata-kata,
ia juga akan menahan kita
dari kebencian hati dan
kemarahan pikiran
Sebab puisi lahir dari renungan,
berbuah kebijaksanaan
sebab puisi adalah kerinduan manusia
pada keindahan dan kebenaran
Mereka tak hanya akan
menghibur kita dalam kata-kata,
ia juga akan menahan kita
dari kebencian hati dan
kemarahan pikiran
Sebab puisi lahir dari renungan,
berbuah kebijaksanaan
sebab puisi adalah kerinduan manusia
pada keindahan dan kebenaran
Ingin kutitipkan puisi sebagai
anak-anak abadi dalam hatimu
agar kelak ia menjadi bekal di ujung usia kita
agar kelak puisi tumbuh menjadi sikap
yang bisa kau lukiskan
untuk kehidupan ini.
Karena dalam puisi, kekasihku, kau adalah
ibu yang diabadikan seribu makna.
anak-anak abadi dalam hatimu
agar kelak ia menjadi bekal di ujung usia kita
agar kelak puisi tumbuh menjadi sikap
yang bisa kau lukiskan
untuk kehidupan ini.
Karena dalam puisi, kekasihku, kau adalah
ibu yang diabadikan seribu makna.
Bandung, Januari 2010
–efm.
Saturday, 5 December 2009
0
Saturday, 5 December 2009
Unknown
read more
Puisi: Doa Bulan Desember
Buat Mien Ardiwinata
Harum shubuh seusai terpejam, Mam,
menyisakan cintamu yang disimpan dengan
kesabaran yang terbaik dari cawan kehidupan.
Seperti rahimmu yang dulu demikian tabah menumbuhkan anak-anak
yang kini mengirim takzim di setiap warna musim.
menyisakan cintamu yang disimpan dengan
kesabaran yang terbaik dari cawan kehidupan.
Seperti rahimmu yang dulu demikian tabah menumbuhkan anak-anak
yang kini mengirim takzim di setiap warna musim.
Inilah yang tersisa, inilah yang berharga,
mengolah hidup dan mensyukuri hari-hari
dengan cinta yang merunduk di atas sajadah
yang merawat aroma isyarat tentang
harapan dan jiwa yang kuat.
mengolah hidup dan mensyukuri hari-hari
dengan cinta yang merunduk di atas sajadah
yang merawat aroma isyarat tentang
harapan dan jiwa yang kuat.
Inilah doa bagi Bunda, kelak mengekal tanpa jeda.
Karena usia ini, seperti taman cinta dan cita-cita yang tak pernah sepi,
menumbuhkan dzikir bunga-bunga pada warna langit
yang tetap merahasia dalam kata-kata,
menumbuhkan kesetiaan dan kasih sayang
yang tak tak pernah hilang dalam hati seorang ibu.
Karena usia ini, seperti taman cinta dan cita-cita yang tak pernah sepi,
menumbuhkan dzikir bunga-bunga pada warna langit
yang tetap merahasia dalam kata-kata,
menumbuhkan kesetiaan dan kasih sayang
yang tak tak pernah hilang dalam hati seorang ibu.
Cinta yang ditanam bertahun-tahun dengan air mata,
ternyata tak pernah berakhir sia-sia.
Ia menjadi doa, puisi, dan seribu pelukan para kekasih
yang bisa menghapus kesedihan dan keletihan
sepanjang senja ini. Maka tersenyumlah, Mam,
seperti ranum doa pada kesunyian ibadah
Dan berbahagialah seperti harum cinta
dalam kerinduan yang tak pernah lelah
ternyata tak pernah berakhir sia-sia.
Ia menjadi doa, puisi, dan seribu pelukan para kekasih
yang bisa menghapus kesedihan dan keletihan
sepanjang senja ini. Maka tersenyumlah, Mam,
seperti ranum doa pada kesunyian ibadah
Dan berbahagialah seperti harum cinta
dalam kerinduan yang tak pernah lelah
Harum shubuh seusai terpejam, Mam,
menerjemahkan cintamu yang tak pernah habis,
seperti sentuhan garis-garis gerimis pada wajah bumi…
Yang tak pernah henti,
seperti sentuhan matahari pada wajah bumi…
menerjemahkan cintamu yang tak pernah habis,
seperti sentuhan garis-garis gerimis pada wajah bumi…
Yang tak pernah henti,
seperti sentuhan matahari pada wajah bumi…
Ciromed, 05 September 2009 08:47
Selamat ulang tahun, Mam, tetap sehat dan bahagia….
Friday, 27 February 2009
0
Friday, 27 February 2009
Unknown
read more
Puisi: Suara Cinta
: rakaat pertama
ribuan malam lahir dari mata hati
yang merapatkan dirinya pada setiap
tikungan bismillah
yang merapatkan dirinya pada setiap
tikungan bismillah
letih keheningan
memutih garis kerinduan
perlahan dialamatkan dengan tabah
untuk seorang kekasih
memutih garis kerinduan
perlahan dialamatkan dengan tabah
untuk seorang kekasih
lalu kita takzim pada setiap musim
yang memberi kita sepetak hamdallah
untuk bersujud mensyukuri cinta
yang memberi kita sepetak hamdallah
untuk bersujud mensyukuri cinta
suara cinta, kekasihku
suara angin yang menerjemahkan doa-doa
maka ikutilah kemana arah ia menatap
maka pergilah menuju arah ia menatap
suara angin yang menerjemahkan doa-doa
maka ikutilah kemana arah ia menatap
maka pergilah menuju arah ia menatap
antologi puisi: “99 rakaat cinta”
Monday, 23 February 2009
0
Monday, 23 February 2009
Unknown
read more
Puisi: Hadiah Terindah
–untuk kekasih yang tak pernah letih
inspired by mien ardiwinata
inspired by mien ardiwinata
Ibu adalah seribu doa
Denting gerimis di reranting kesepian
Dengarlah, musim mengirim hadiah terindah
pada setiap daun-daun berembun
Maka berbahagialah, tiadalah yang meragukan cinta
pada harum tangan-tangan lembut ibunda…
Denting gerimis di reranting kesepian
Dengarlah, musim mengirim hadiah terindah
pada setiap daun-daun berembun
Maka berbahagialah, tiadalah yang meragukan cinta
pada harum tangan-tangan lembut ibunda…
Ibu adalah seribu cinta
Kerling kata hati di sepasang mata kekasih
Lihatlah, langit menitip sepenuh keteduhan
setelah derai hujan mengurai harapan
Maka kenanglah, padanyalah bakti tertinggi dilimpahkan
sebagai kerelaan memuliakan ibunda
Kerling kata hati di sepasang mata kekasih
Lihatlah, langit menitip sepenuh keteduhan
setelah derai hujan mengurai harapan
Maka kenanglah, padanyalah bakti tertinggi dilimpahkan
sebagai kerelaan memuliakan ibunda
Ibu adalah seribu makna
Hening kasih sayang di lengang kesedihan
Hikmatilah, lembut restunya menelusup kabut hidup
Maka takzimlah, maka persembahkanlah
seluruh doa dan cinta terindah kita bagi ibunda…
Hening kasih sayang di lengang kesedihan
Hikmatilah, lembut restunya menelusup kabut hidup
Maka takzimlah, maka persembahkanlah
seluruh doa dan cinta terindah kita bagi ibunda…
Ciromed, Februari 2009
Wednesday, 11 February 2009
0
Wednesday, 11 February 2009
Unknown
read more
Puisi: Jarak
Jarak kita dengan kesedihan
Seperti warna musim pada garis daun
Usia ketabahan tiba-tiba memutih dalam
kerumunan cuaca, letih melunta dalam
perselisihan air mata dan kata-kata
Jarak kita dengan cinta
Seperti harum langit pada garis hujan
Mata hati tiba-tiba menerima isyarat dalam
kerinduan tertahan, lamat bersahutan dalam
gelagat harapan dan kenyataan
Seperti warna musim pada garis daun
Usia ketabahan tiba-tiba memutih dalam
kerumunan cuaca, letih melunta dalam
perselisihan air mata dan kata-kata
Jarak kita dengan cinta
Seperti harum langit pada garis hujan
Mata hati tiba-tiba menerima isyarat dalam
kerinduan tertahan, lamat bersahutan dalam
gelagat harapan dan kenyataan
Dan Jarak kita dengan seorang kekasih
seperti batas cemas antara kesedihan dan cinta
Selalu, itu memaksa kita tetap terjaga
dalam setiap kebaikan dan doa-doa.
seperti batas cemas antara kesedihan dan cinta
Selalu, itu memaksa kita tetap terjaga
dalam setiap kebaikan dan doa-doa.
Sumedang, Februari 2009
Thursday, 26 June 2008
0
Thursday, 26 June 2008
Unknown
read more
Puisi: Tak Ada Kekasih Yang Mau Patuh
Dunia menjelmakan suaranya diantara derap sepatumu
Ia membangun sarang di hatimu dan menyamar
menjadi kekasihmu
Tiba-tiba saja kau kehausan
Dan kebodohan mengajarimu bagaimana
cara yang aman untuk menenggak malam sendirian
Ia membangun sarang di hatimu dan menyamar
menjadi kekasihmu
Tiba-tiba saja kau kehausan
Dan kebodohan mengajarimu bagaimana
cara yang aman untuk menenggak malam sendirian
Tak ada kekasih yang mau patuh pada luka-luka,
pada rasa lelah dan pada sebait puisi kita yang bermasalah
Ia hanya bisa menancapkan kesedihannya di hatimu
dan menjauh darimu dengan beribu kesenangan
pada rasa lelah dan pada sebait puisi kita yang bermasalah
Ia hanya bisa menancapkan kesedihannya di hatimu
dan menjauh darimu dengan beribu kesenangan
Hapuslah segalanya, dan belajarlah bagaimana
mencintai sesuatu yang tak terlihat, yang tak terdengar
yang tak tersentuh
Atau barangkali kita tetap tahu, mencintai diri sendiri
adalah pekerjaan yang melelahkan.
mencintai sesuatu yang tak terlihat, yang tak terdengar
yang tak tersentuh
Atau barangkali kita tetap tahu, mencintai diri sendiri
adalah pekerjaan yang melelahkan.
Juni 2008
Thursday, 24 April 2008
0
Thursday, 24 April 2008
Unknown
read more
Puisi: Pertanyaan Untuk Allah
Ya Allah…
Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
Aku mendengar dari sini mereka menyebut nama-Mu keras-keras lalu mereka membakar mesjid-mesjid.
Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
Aku mendengar dari sini mereka menyebut nama-Mu keras-keras lalu mereka membakar mesjid-mesjid.
Ya Allah…
Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
Aku mendengar mereka melukai hati saudaranya sendiri dan tak segan membuat kerusakan atas nama-Mu.
Ya Allah…
Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
Aku mendengar mereka membela-Mu tetapi membunuh hati nurani dan rasa kemanusiaan mereka sendiri
Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
Aku mendengar mereka melukai hati saudaranya sendiri dan tak segan membuat kerusakan atas nama-Mu.
Ya Allah…
Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
Aku mendengar mereka membela-Mu tetapi membunuh hati nurani dan rasa kemanusiaan mereka sendiri
Ya Allah…
Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
Aku mendengar mereka merasa paling benar lalu menajamkan kesombongan iman untuk menusuk-nusuk orang-orang lemah.
Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
Aku mendengar mereka merasa paling benar lalu menajamkan kesombongan iman untuk menusuk-nusuk orang-orang lemah.
Ya Allah…
Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
Aku mendengar mereka bicara tentang kesucian agamanya lalu disaat yang sama berbuat dzalim dan menodai kesucian agamanya sendiri.
Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
Aku mendengar mereka bicara tentang kesucian agamanya lalu disaat yang sama berbuat dzalim dan menodai kesucian agamanya sendiri.
Ya Allah…
Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
Aku mendengar mereka meneriakkan jihad dan ditempat yang sama mereka mengumbar hawa nafsunya sendiri
Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
Aku mendengar mereka meneriakkan jihad dan ditempat yang sama mereka mengumbar hawa nafsunya sendiri
Ya Allah…
Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
Aku mendengar mereka mengucapkan ayat-ayat-Mu lalu mengotori maknanya dengan api amarah di dadanya
Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
Aku mendengar mereka mengucapkan ayat-ayat-Mu lalu mengotori maknanya dengan api amarah di dadanya
Ya Allah…
Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
Ya Allah…
Kenapa mereka merasa yakin berada di jalan-Mu dengan keadaan diri yang penuh kesombongan dan kebencian seperti itu?
Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
Ya Allah…
Kenapa mereka merasa yakin berada di jalan-Mu dengan keadaan diri yang penuh kesombongan dan kebencian seperti itu?
Ya Allah…
Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
Ya Allah…
Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
Ya Allah…
Sunday, 13 January 2008
0
Sunday, 13 January 2008
Unknown
read more
Puisi: Kami Mengambil Jarak
Kami pergi
setelah berabad tengadah dan
berabad menunduk
setelah berabad tengadah dan
berabad menunduk
Kami gelisah
sebagai detik yang meloncat
dari hitungan jam
sebagai nada sumbang tali-tali zaman
sebagai detik yang meloncat
dari hitungan jam
sebagai nada sumbang tali-tali zaman
Kami bergerak
meninggalkan mimbar,
bekerja dan bercita-cita
bersama orang-orang.
meninggalkan mimbar,
bekerja dan bercita-cita
bersama orang-orang.
Kami mengambil jarak, teriak
dan menghentak
Kami takzim pada barisan yang merapat tajam.
2007
dan menghentak
Kami takzim pada barisan yang merapat tajam.
2007
Wednesday, 10 October 2007
0
Wednesday, 10 October 2007
Unknown
read more
Puisi: Sajak Bapak dan Anaknya
“Lalu segera akan kau lihat daun-daun menguning, Anakku.
Dan apa yang tersisa dari usiaku selain
ingatan yang perlahan rapuh dan jiwa yang tak
lagi gagah menyusun rencana…”
Dan apa yang tersisa dari usiaku selain
ingatan yang perlahan rapuh dan jiwa yang tak
lagi gagah menyusun rencana…”
Tetapi berbahagialah, Bapak, hidup memang
tak memberi kita tafsir yang ketat untuk bahagia
Telah kulanjutkan sisa musim
dan hampar ladang yang segar
juga bakti yang tak pernah berhenti dan mati
tak memberi kita tafsir yang ketat untuk bahagia
Telah kulanjutkan sisa musim
dan hampar ladang yang segar
juga bakti yang tak pernah berhenti dan mati
Betapa diam-diam harapan kita saling berbagi, Bapak
Kemudian aroma hujan pada tanah kenanganmu,
pohon-pohon doa dan permohonanmu,
telah mengajari kita bahwa usia bukanlah
satu-satunya bahasa yang mampu menghitung
seberapa tabah kebahagiaan kita dan
seberapa pasrah kemuliaan kita…
Kemudian aroma hujan pada tanah kenanganmu,
pohon-pohon doa dan permohonanmu,
telah mengajari kita bahwa usia bukanlah
satu-satunya bahasa yang mampu menghitung
seberapa tabah kebahagiaan kita dan
seberapa pasrah kemuliaan kita…
0
Unknown
Puisi: Aku Rindu Muhammad
Aku rindu Muhammad
diantara sendu yang disekap abjad
juga jelaga dan cinta yang tiba-tiba lindap
tersekat gelagat hasrat
Lalu kurogoh abad-abad dilipatan hikayat dan
manuskrip doa-doa para kekasih yang
memanjang menghibur ribuan musim
Dan ayat demi ayat mengungkit aku dari
bertumpuk suara kerinduan yang
tiba-tiba hampir tergagap dalam endapan zaman
Aku rindu Muhammad
diantara sendu yang perlahan merangkum
harum alif di kaki Ibrahim
Mengalirlah, Rasulullah, dalam arus darahku
Menjelang Ramadhan, 2007
read more
diantara sendu yang disekap abjad
juga jelaga dan cinta yang tiba-tiba lindap
tersekat gelagat hasrat
Lalu kurogoh abad-abad dilipatan hikayat dan
manuskrip doa-doa para kekasih yang
memanjang menghibur ribuan musim
Dan ayat demi ayat mengungkit aku dari
bertumpuk suara kerinduan yang
tiba-tiba hampir tergagap dalam endapan zaman
Aku rindu Muhammad
diantara sendu yang perlahan merangkum
harum alif di kaki Ibrahim
Mengalirlah, Rasulullah, dalam arus darahku
Menjelang Ramadhan, 2007
Sunday, 9 September 2007
0
Sunday, 9 September 2007
Unknown
read more
Puisi: Lalu Hujan, Atau Luka
: 9 September, Tercatat
Lalu hujan, atau luka Lorca
Peluru-peluru
Lalu kita takjub padahuruf-huruf yang
tiba-tiba hidup
Lalu hujan, atau luka Lorca
Peluru-peluru
Lalu kita takjub padahuruf-huruf yang
tiba-tiba hidup
Setiap puisi telah lewat jadi saksi
Dan mencibir tanah air
Lalu hujan, atau pena yang
akhirnya menajam menyilet malam
Dan siapa giliran yang mati shubuh ini
di keranda kata-kata?
Lalu hujan, atau luka.
Kita dipaksa untuk bercakap
dengan seribu terka
2007
Dan mencibir tanah air
Lalu hujan, atau pena yang
akhirnya menajam menyilet malam
Dan siapa giliran yang mati shubuh ini
di keranda kata-kata?
Lalu hujan, atau luka.
Kita dipaksa untuk bercakap
dengan seribu terka
2007
Saturday, 10 March 2007
0
Saturday, 10 March 2007
Unknown
read more
Puisi: Cipadung 2
Matahari turun perlahan dan
warnanya jatuh disungai
Barangkali ada petani yang akan lewat
dan tersenyum pada takzim kita, seperti sebait puisi
Masih ada angin, seperti kemarin
yang berulang-ulang kucatat diatas daun bathinku
warnanya jatuh disungai
Barangkali ada petani yang akan lewat
dan tersenyum pada takzim kita, seperti sebait puisi
Masih ada angin, seperti kemarin
yang berulang-ulang kucatat diatas daun bathinku
Lalu ingin aku mengajakmu kesana
Menuruni ladang, merawat bunga-bunga dengan
jantung berdegup
seperti ketukan
tangan kekasih di pintu doa-doa.
Kita akan bercocok tanam harapan
di kebun masa depan
Menuruni ladang, merawat bunga-bunga dengan
jantung berdegup
seperti ketukan
tangan kekasih di pintu doa-doa.
Kita akan bercocok tanam harapan
di kebun masa depan
Berpegang erat tanganku, tanganmu
Kangenku melihatmu tersipu malu
Tersenyumlah, hidup ini mungkin
seperti rasa lelah yang ingin dimengerti.
Marilah pulang, teteh, jangan dulu menoleh ke belakang
Sebelum malam habis, sisa-sisa embun jatuh
dan tunas-tunas itu tumbuh
10 maret 2007
Kangenku melihatmu tersipu malu
Tersenyumlah, hidup ini mungkin
seperti rasa lelah yang ingin dimengerti.
Marilah pulang, teteh, jangan dulu menoleh ke belakang
Sebelum malam habis, sisa-sisa embun jatuh
dan tunas-tunas itu tumbuh
10 maret 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)



