Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Sunday, 6 July 2014

0

Puisi: Kasidah Cinta

  • Sunday, 6 July 2014
  • Unknown

  • sunyiMenulis puisi tentang cinta memang menakjubkan. Cinta, pada akhirnya, selalu ingin menegaskan warnanya diantara ragam suasana hati, kegelisahan, harapan dan kerinduan. Dalam puisi, sehebat apapun kerinduan dan kegelisahan cinta manusia terhadap sesama dan Tuhan-Nya, selalu menemukan tempatnya yang ramai dan leluasa dalam tafsir dan makna. Meskipun tohpada akhirnya, kegelisahan manusia–seperti halnya kerinduan–selalu tak pernah usai, selalu tak kunjung selesai, dan kemudian puisi mengabadikannya menjadi lembaran makna yang selalu mengalir, meriak, bergelombang dalam bermilyar tafsir dan pengalaman pembacanya.
    Dalam puisi, manusia selalu menegaskan kesadarannya dengan cara yang terbaik. Manusia sadar bahwa ia tidak sempurna, maka ia mesti mengenali potensi untuk memperbaikinya. Manusia selalu bergerak dalam petak-petak makna.
    Manusia, bisa berarti kuat, hidup, dan baik; bisa juga berarti lemah, kecil dan kotor. Kesadarannya yang luas tidak dengan serta merta membebaskan keterbatasannya. Di hadapan Tuhan, keterbatasannya selalu berarti cemas, takut, cinta, harap, manja, rindu, mesra, takjub dan sebagainya dan sebagainya. Lalu Tuhan “menari” mengikuti warna “nyanyian” manusia.
    Betapa Tuhan Maha Sempurna. Ia mencintai manusia lebih sempurna dibanding cinta manusia terhadap-Nya. Tuhan ada dan tumbuh dalam hati manusia bukan dalam bingkai rasa marah, kalah, putus asa, dan benci; Ia tumbuh dalam suasana cinta, intim dan mesra. Bagi saya, puisi menjadi salah satu “dzikir yang cerdas” bagi manusia untuk lebih dekat dan mesra dengan Tuhan.
    Maka dalam puisi, manusia menerjemahkan Tuhan bukan lagi sesuatu yang baku dan beku, jauh dan asing, besar dan kekar; tetapi sesuatu yang sangat dekat dan intim, seperti Kekasih; kekasih yang mungkin berulangkali dikhianati, tetapi akan tetap Ada diurat nadiku, di urat nadimu…
    Kasidah Cinta
    Rekah malam yang tumbuh masih meruncingkan batinku yang dingin
    Memunguti hikmah dari setapak isyarat menuju surau-surau ketabahan
    Kau menjelma tangan-tangan gaib yang menutup pintu-pintu keluh kesah
    Mengalirkan arus cahaya yang merunduk di reranting keheninganku
    Menyimpan ziarah doa-doaku pada garis-garis panjang kepedihan
    Lentik jarimu yang mempermainkan senja, masih saja menguji tafakurku
    Bertahun melupakanmu dan kau tak henti menyimpan kejernihan hatimu
    Lalu aku dzikirkan sunyi pada lembaran langitmu yang maha sepi
    Senja menyusun rindu yang menyala dalam rakaat kesendirianku
    Hujan masih kau susun dan aroma bismillah merambah akar imanku
    Kau uraikan rambut hitammu pada sudut-sudut mata hatiku yang letih
    Sebelum akhirnya kesedihan perlahan memudar dalam sujud kesadaranku
    Lentik bulu matamu yang memilah musim, masih saja menguji ibadahku 
    Bertahun meninggalkanmu dan kau tak henti menunggu kejernihan imanku
    Sumedang, 15 April 2011
    read more

    Friday, 20 May 2011

    0

    Puisi: Di Jalan Yang Menikung

  • Friday, 20 May 2011
  • Unknown
  • Hari pun mengecil dan teduh
    Gerimis menepis saujana
    Langit yang sembunyi
    Mempererat risau
    Di jalan yang menikung
    Daun-daun meramalkan cuaca

    Ketika burung-burung mengejar musim
    Kita gemetar mengatur letak usia
    Hidup hanya menyusuri kerikil takdir
    Dengan kaki telanjang
    Waktu pun bisu
    Tak berpintu
    Bandung, 20 Mei 2011
    read more

    Friday, 8 April 2011

    0

    Puisi: Mimbar Para Penyair

  • Friday, 8 April 2011
  • Unknown
  • Ingin kami susun dalam barisan puisi
    Tentang resah yang tak bisa terwakili amarah
    Ingin kami himpun dalam barisan puisi
    Tentang lebam sungkawa dalam peristiwa
    Ingin kami rangkum dalam barisan puisi
    Tentang jiwa yang terpenjara jelaga luka
    Hayatilah takdir kegelisahan para penyair
    Mata hati dibalik pintu-pintu hari yang terkunci
    Sungai-sungai kesadaran yang bermuara lautan
    Sebilah renungan bagi daging mentah kehidupan
    Memburu rindu dalam hingar makna tanpa dasar
    Debur cahaya dalam dengkur sang penguasa
    Dan ingin kami catat dalam barisan puisi
    Tentang dunia yang hampa nan dahaga
    Menanam benih makna dalam jejak yang fana
    Sebelum remah-remah usia yang perlahan punah
    Sebelum riuh rendah kata yang kemudian musnah
    Berlayarlah dalam cakrawala berjuta prahara
    Berlayarlah dalam belantara berjuta cuaca
    Lalu huruf-huruf berbaris mengarungi ribuan ingatan
    “Kesaksian yang tak pernah mati dikabarkan
    adalah puisi zaman yang tak akan henti diwariskan”
    Bandung, 08 April 2011
    read more

    Friday, 1 April 2011

    0

    Puisi: Risalah Senja

  • Friday, 1 April 2011
  • Unknown
  • Ada rindu yang terselip
    di saku baju kotorku
    Kau mencucinya
    seperti ringkih hujan
    mencaci sunyi
    Ada doa  yang membekas
    di ujung sapu tanganmu
    Aku melipatnya
    seperti desis hari
    menyusun cuaca
    Ada mimpi yang tersisa
    dalam secangkir kopiku
    Kau mereguknya
    seperti dengus jam
    menghalau kenangan
    Ada usia yang memutih
    dalam sekeranjang ingatan
    Kita terbaring gemetar mendekapnya
    Seperti merasa ada sebilah tuhan
    diurat nadiku, diurat lehermu
    Sumedang, 01 April 2011 
    read more

    Monday, 22 March 2010

    0

    Puisi: Tafakur

  • Monday, 22 March 2010
  • Unknown

  • Di tanah yang akan punah ini usia kita tumbuh dan rubuh
    Ia seperti daun-daun hari yang memutih disembelih matahari
    Rumah bagi riwayat kita bangun di atas sepetak keluh kesah
    Menabung mimpi yang sepi di tahun-tahun yang tenggelam
    Membenahi rencana di lembaran-lembaran musim yang fana
    Di sinilah di taman purba dunia dahaga iman mengendapkan jelaga
    Tafakur kita tersungkur dalam legam sunyi dan misteri
    Merangkak di setapak puisi memunguti remah-remah cahaya
    Hayatilah nyala kegelisahan yang tak pernah selesai ini
    Dengan cinta kita pertautkan temali mimpi pada tiang-tiang zaman
    Di sinilah di kebun kepedihan kita tanam benih-benih permenungan
    Dan kita pergilirkan silsilah rindu yang tak pernah menyerah
    Doa-doa kita dilipat seperti surat yang terkirim tanpa alamat
    Ia seperti pohon yang menjulurkan lidahnya pada warna langit
    Dengan akar ketabahannya kita lebur dalam sujud yang teduh
    Di tanah yang akan punah ini usia kita tergusur dan terbujur
    Waktu perlahan akan meredup menutup pintu-pintu masa lalu
    Jiwa yang berabad kita dzikirkan akan hilang dan berakhir
    Hayatilah nyala kegelisahan yang tak pernah selesai ini
    Sebelum kita runtuh dan terbunuh tanpa menyisakan makna
    Bandung, Februari 2010
    read more

    Thursday, 18 February 2010

    0

    Puisi: Hadirlah di Rumah Hati Kami

  • Thursday, 18 February 2010
  • Unknown

  • Hidup ini adalah selembar puisi yang sunyi
    kata-katanya bergulir dalam tafsir dan takdir
    basah oleh gerimis air mata dan cinta
    mengering dalam kepungan seribu musim
    dan kesepian, ya Rahman ya Rahiim…
    Betapa jiwa kecewa memungut rencana, ya Khabiir,
    usia yang dahaga di dera berjuta rahasia
    Gelisah, iman yang terbaring lelah
    diantara ranum tabah dan amarah
    Hanya Engkau, hanya Engkaulah muara risauku
    Inilah dunia yang fana, rapuh dalam sentuhan tubuh
    Iman yang mudah kalah dalam hasut bisikan
    Hati yang mudah pecah dalam rayu bayangan
    Hadirlah, Ya Allah, hadirlah di rumah hati kami
    Ajari kami memaknai rahasia siang dan malam…
    Sumedang, Februari 2010
    read more

    Monday, 15 February 2010

    1

    Puisi: Ketika Hujan, Tentang Kegelisahan

  • Monday, 15 February 2010
  • Unknown

  • Hari ini, aku menemukan wajahmu diantara ribuan garis hujan.
    Suara gerimis terdengar miris menabuh bumi yang makin memburuk ini.
    Ah, cinta kita, kelak akan makin sempit menikmati wajah dunia,
    jarak kita akan semakin dingin dan menganga dalam kata-kata…
    Dengarlah,  lihatlah, usia alam telah memendam dendam pada manusia
    Air sungai yang kotor meluap ke rumah-rumah, mengendap dalam tidur kita,
    dan pohon-pohon tumbang menghadang jalan, ribuan tumbuhan rusak
    Sampah-sampah pamplet iklan dan politik menutupi lubang-lubang selokan dan pikiran kita
    Pabrik tak henti mengalirkan gelombang limbah pada hati kita
    Bumi sudah sakit, langit sudah terasa pahit di lidah harapan kita
    Kita begitu resah dalam putaran zaman
    Cinta kita terhimpit, waktu telah merampok usianya yang panjang
    Aku masih saja merindukanmu, di sini, diantara putaran malam dan siang yang terasa singkat
    Mimpiku dicekik detik-detik, dicambuki hari-hari, doaku memekik di bawah terik matahari.
    Aku gemetar menyulam cinta dalam gemuruh roda raksasa ekonomi yang keras menggilas nasib
    Berjalan ringkih dalam nyanyian sedih kaum penganggur yang membeli harapan dengan
    setumpuk amarah dan keputusasaan, terasing dalam jiwanya sendiri.
    Jiwaku dijajah berjuta wajah dalam koran-koran dan majalah
    Aku murung dalam sihir sinetron dan film-film
    Masa depan yang rumit dan mahal, Sayangku, betapa
    cinta kita dibuatnya resah dan mengalah.
    Hujan masih saja turun deras dalam pikiranku.
    Air sungai yang kotor meluap dalam puisiku.
    Aku berselisih dengan kemungkinan dan misteri.
    Tak henti melempar dadu di atas lingkar rindu yang terbakar.
    Betapa kita hidup di dunia yang mendidik cinta terbiasa patuh pada sengketa dan harta.
    Di sini, hujan masih saja turun deras, Sayang
    Air sungai berlumpur masih meluap dalam puisiku.
    Angin memangkas dedaun dan kata-kata.
    Cinta kita tak henti menggigil dalam dingin usia…
    EFM/ Cimahi, Februari 2010
    read more

    Thursday, 28 January 2010

    0

    Puisi: Puisi Cinta dan Mata Hati

  • Thursday, 28 January 2010
  • Unknown
  • Berjanjilah padaku, kau akan merindukanku seharum hujan dalam puisi
    Jarak kita, sayang, riak cinta membayang dalam doa dan kalam
    Masih aku dzikirkan rindu ini, lirih ketika jiwa hampir berdebu dan membatu
    Lihatlah kerling langit yang hening, derit kata melunta dalam cuaca
    Kita mengecil dalam rahasia, usia menggigil dalam bahasa
    Hidup adalah deru yang menyimpan seribu jalan menikung.
    Di sanalah, kau dan aku, bersahutan tanpa sentuhan dan perjumpaan
    Kita hanya hadir dalam gulir ingatan yang deras pada
    napas hujan dan hempas bayangan.
    Aku takut, keberanianku ditelan kabut semudah nyawa direnggut maut
    Jauh tertinggal, lenguh sesal tersengal seperti temali ajal di leher kekal
    Aku seperti telah kehilanganmu sebelum sempat menjumpaimu
    Telah muram mimpi dalam kasidah sepi ketika wajah tengadah
    menerjemahkan lelah dan kalah
    Terpejamlah, terpejam seperti mata malam yang sunyi
    Betapa mata hati memiliki berjuta pandang pada hakikat
    Kerinduan adalah rekah keindahan, cinta adalah kekuatan
    Maka Kita pun begitu dekat mempererat isyarat,
    Jiwa pun meringkas batas-batas cemas dan kesedihan.
    Nyanyimu mengkristalkan bunyi yang pejal dalam lengang sunyiku
    Aku bangkit dari langit yang sempit, mendekap suaramu dalam temaram
    “Harapan adalah nyanyian kehidupan,
    sentuhan tangan-tangan Tuhan dalam kesunyian…”
    Masih mengalir rindu ini, meski ringkih dalam tabir hati yang sendu dan sunyi
    Berjanjilah padaku, kau akan menemaniku sehalus jingga dalam senja
    Dan hati kita, sayang, serupa kata dan makna, tak henti mengurai arti dan pesan
    Betapa ingin aku datang padamu dan menikahi wajah hatimu
    Maka terpejamlah, terpejam seperti mata malam yang sunyi…
    EFM/CIMAHI, JANUARI 2010
    read more

    Sunday, 24 January 2010

    0

    Puisi: Puisi dalam Renungan

  • Sunday, 24 January 2010
  • Unknown
  • Kutulis cintaku dalam puisi ini
    agar kelak ia tetap hidup sebagai
    kenangan yang tak akan hilang dalam
    kerapuhan usia dan bisikan
    Puisi adalah anak-anak kita
    Mereka tak hanya akan
    menghibur kita dalam kata-kata,
    ia juga akan menahan kita
    dari kebencian hati dan
    kemarahan pikiran

    Sebab puisi lahir dari renungan,
    berbuah kebijaksanaan
    sebab puisi adalah kerinduan manusia
    pada keindahan dan kebenaran
    Ingin kutitipkan puisi sebagai
    anak-anak abadi dalam hatimu
    agar kelak ia menjadi bekal di ujung usia kita
    agar kelak puisi tumbuh menjadi sikap
    yang bisa kau lukiskan
    untuk kehidupan ini.
    Karena dalam puisi, kekasihku, kau adalah
    ibu yang diabadikan seribu makna.
    Bandung, Januari 2010
    –efm.
    read more

    Saturday, 5 December 2009

    0

    Puisi: Doa Bulan Desember

  • Saturday, 5 December 2009
  • Unknown
  • Buat Mien Ardiwinata
    Harum shubuh seusai terpejam, Mam,
    menyisakan cintamu yang disimpan dengan
    kesabaran yang terbaik dari cawan kehidupan.
    Seperti rahimmu yang dulu demikian tabah menumbuhkan anak-anak
    yang kini mengirim takzim di setiap warna musim.
    Inilah yang tersisa, inilah yang berharga,
    mengolah hidup dan mensyukuri hari-hari
    dengan cinta yang merunduk di atas sajadah
    yang merawat aroma isyarat tentang
    harapan dan jiwa yang kuat.
    Inilah doa bagi Bunda, kelak mengekal tanpa jeda.
    Karena usia ini, seperti taman cinta dan cita-cita yang tak pernah sepi,
    menumbuhkan dzikir bunga-bunga pada warna langit
    yang tetap merahasia dalam kata-kata,
    menumbuhkan kesetiaan dan kasih sayang
    yang tak tak pernah hilang dalam hati seorang ibu.
    Cinta yang ditanam bertahun-tahun dengan air mata,
    ternyata tak pernah berakhir sia-sia.
    Ia menjadi doa, puisi, dan seribu pelukan para kekasih
    yang bisa menghapus kesedihan dan keletihan
    sepanjang senja ini. Maka tersenyumlah, Mam,
    seperti ranum doa pada kesunyian ibadah
    Dan berbahagialah seperti harum cinta
    dalam kerinduan yang tak pernah lelah
    Harum shubuh seusai terpejam, Mam,
    menerjemahkan cintamu yang tak pernah habis,
    seperti sentuhan garis-garis gerimis pada wajah bumi…
    Yang tak pernah henti,
    seperti sentuhan matahari pada wajah bumi…
    Ciromed, 05 September 2009 08:47
    Selamat ulang tahun, Mam, tetap sehat dan bahagia….
    read more

    Friday, 27 February 2009

    0

    Puisi: Suara Cinta

  • Friday, 27 February 2009
  • Unknown
  • : rakaat pertama
    ribuan malam lahir dari mata hati
    yang merapatkan dirinya pada setiap
    tikungan bismillah
    letih keheningan
    memutih garis kerinduan
    perlahan dialamatkan dengan tabah
    untuk seorang kekasih
    lalu kita takzim pada setiap musim
    yang memberi kita sepetak hamdallah
    untuk bersujud mensyukuri cinta
    suara cinta, kekasihku
    suara angin yang menerjemahkan doa-doa
    maka ikutilah kemana arah ia menatap
    maka pergilah menuju arah ia menatap
    antologi puisi: “99 rakaat cinta”
    read more

    Monday, 23 February 2009

    0

    Puisi: Hadiah Terindah

  • Monday, 23 February 2009
  • Unknown
  • –untuk kekasih yang tak pernah letih
    inspired by mien ardiwinata
    Ibu adalah seribu doa
    Denting gerimis di reranting kesepian
    Dengarlah, musim mengirim hadiah terindah
    pada setiap daun-daun berembun
    Maka berbahagialah, tiadalah yang meragukan cinta
    pada harum tangan-tangan lembut ibunda… 
    Ibu adalah seribu cinta
    Kerling kata hati di sepasang mata kekasih
    Lihatlah, langit menitip sepenuh keteduhan
    setelah derai hujan mengurai harapan
    Maka kenanglah, padanyalah bakti tertinggi dilimpahkan
    sebagai kerelaan memuliakan ibunda
    Ibu adalah seribu makna
    Hening kasih sayang di lengang kesedihan
    Hikmatilah, lembut restunya menelusup kabut hidup
    Maka takzimlah, maka persembahkanlah
    seluruh doa dan cinta terindah kita bagi ibunda…
    Ciromed, Februari 2009
    read more

    Wednesday, 11 February 2009

    0

    Puisi: Jarak

  • Wednesday, 11 February 2009
  • Unknown
  • Jarak kita dengan kesedihan
    Seperti warna musim pada garis daun
    Usia ketabahan tiba-tiba memutih dalam
    kerumunan cuaca, letih melunta dalam
    perselisihan air mata dan kata-kata
    Jarak kita dengan cinta
    Seperti harum langit pada garis hujan
    Mata hati tiba-tiba menerima isyarat dalam
    kerinduan tertahan, lamat bersahutan dalam
    gelagat harapan dan kenyataan
    Dan Jarak kita dengan seorang kekasih
    seperti batas cemas antara kesedihan dan cinta
    Selalu, itu memaksa kita tetap terjaga
    dalam setiap kebaikan dan doa-doa.
    Sumedang, Februari 2009
    read more

    Thursday, 26 June 2008

    0

    Puisi: Tak Ada Kekasih Yang Mau Patuh

  • Thursday, 26 June 2008
  • Unknown
  • Dunia menjelmakan suaranya diantara derap sepatumu
    Ia membangun sarang di hatimu dan menyamar
    menjadi kekasihmu
    Tiba-tiba saja kau kehausan
    Dan kebodohan mengajarimu bagaimana
    cara yang aman untuk menenggak malam sendirian
    Tak ada kekasih yang mau patuh pada luka-luka,
    pada rasa lelah dan pada sebait puisi kita yang bermasalah
    Ia hanya bisa menancapkan kesedihannya di hatimu
    dan menjauh darimu dengan beribu kesenangan
    Hapuslah segalanya, dan belajarlah bagaimana
    mencintai sesuatu yang tak terlihat, yang tak terdengar
    yang tak tersentuh
    Atau barangkali kita tetap tahu, mencintai diri sendiri
    adalah pekerjaan yang melelahkan.
    Juni 2008
    read more

    Thursday, 24 April 2008

    0

    Puisi: Pertanyaan Untuk Allah

  • Thursday, 24 April 2008
  • Unknown
  • Ya Allah…
    Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
    Aku mendengar dari sini mereka menyebut nama-Mu keras-keras lalu mereka membakar mesjid-mesjid.
    Ya Allah…
    Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
    Aku mendengar mereka melukai hati saudaranya sendiri dan tak segan membuat kerusakan atas nama-Mu.

    Ya Allah…
    Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
    Aku mendengar mereka membela-Mu tetapi membunuh hati nurani dan rasa kemanusiaan mereka sendiri
    Ya Allah…
    Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
    Aku mendengar mereka merasa paling benar lalu menajamkan kesombongan iman untuk menusuk-nusuk orang-orang lemah.
    Ya Allah…
    Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
    Aku mendengar mereka bicara tentang kesucian agamanya lalu  disaat yang sama berbuat dzalim dan menodai kesucian agamanya sendiri.
    Ya Allah…
    Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
    Aku mendengar mereka meneriakkan jihad dan ditempat yang sama mereka mengumbar hawa nafsunya sendiri
    Ya Allah…
    Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
    Aku mendengar mereka mengucapkan ayat-ayat-Mu lalu mengotori maknanya dengan api amarah di dadanya
    Ya Allah…
    Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
    Ya Allah…
    Kenapa mereka merasa yakin berada di jalan-Mu dengan keadaan diri yang penuh kesombongan dan kebencian seperti itu?
    Ya Allah…
    Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
    Ya Allah…
    read more

    Sunday, 13 January 2008

    0

    Puisi: Kami Mengambil Jarak

  • Sunday, 13 January 2008
  • Unknown
  • Kami pergi
    setelah berabad tengadah dan
    berabad menunduk
    Kami gelisah
    sebagai detik yang meloncat
    dari hitungan jam
    sebagai nada sumbang tali-tali zaman
    Kami bergerak
    meninggalkan mimbar,
    bekerja dan bercita-cita
    bersama orang-orang.
    Kami mengambil jarak, teriak
    dan menghentak
    Kami takzim pada barisan yang merapat tajam.
    2007
    read more

    Wednesday, 10 October 2007

    0

    Puisi: Sajak Bapak dan Anaknya

  • Wednesday, 10 October 2007
  • Unknown
  • “Lalu segera akan kau lihat daun-daun menguning, Anakku.
    Dan apa yang tersisa dari usiaku selain
    ingatan yang perlahan rapuh dan jiwa yang tak
    lagi gagah menyusun rencana…”
    Tetapi berbahagialah, Bapak, hidup memang
    tak memberi kita tafsir yang ketat untuk bahagia
    Telah kulanjutkan sisa musim
    dan hampar ladang yang segar
    juga bakti yang tak pernah berhenti dan mati
    Betapa diam-diam harapan kita saling berbagi, Bapak
    Kemudian aroma hujan pada tanah kenanganmu,
    pohon-pohon doa dan permohonanmu,
    telah mengajari kita bahwa usia bukanlah
    satu-satunya bahasa yang mampu menghitung
    seberapa tabah kebahagiaan kita dan
    seberapa pasrah kemuliaan kita…
    read more
    0

    Puisi: Aku Rindu Muhammad

  • Unknown
  • Aku rindu Muhammad
    diantara sendu yang disekap abjad
    juga jelaga dan cinta yang tiba-tiba lindap
    tersekat gelagat hasrat

    Lalu kurogoh abad-abad dilipatan hikayat dan
    manuskrip doa-doa para kekasih yang
    memanjang menghibur ribuan musim

    Dan ayat demi ayat mengungkit aku dari
    bertumpuk suara kerinduan yang
    tiba-tiba hampir tergagap dalam endapan zaman

    Aku rindu Muhammad
    diantara sendu yang perlahan merangkum
    harum alif di kaki Ibrahim

    Mengalirlah, Rasulullah, dalam arus darahku

    Menjelang Ramadhan, 2007
    read more

    Sunday, 9 September 2007

    0

    Puisi: Lalu Hujan, Atau Luka

  • Sunday, 9 September 2007
  • Unknown
  • : 9 September, Tercatat
    Lalu hujan, atau luka Lorca
    Peluru-peluru
    Lalu kita takjub padahuruf-huruf yang
    tiba-tiba hidup
    Setiap puisi telah lewat jadi saksi
    Dan mencibir tanah air
    Lalu hujan, atau pena yang
    akhirnya menajam menyilet malam
    Dan siapa giliran yang mati shubuh ini
    di keranda kata-kata?

    Lalu hujan, atau luka.
    Kita dipaksa untuk bercakap
    dengan seribu terka

    2007
    read more

    Saturday, 10 March 2007

    0

    Puisi: Cipadung 2

  • Saturday, 10 March 2007
  • Unknown
  • Matahari turun perlahan dan
    warnanya jatuh disungai
    Barangkali ada petani yang akan lewat
    dan tersenyum pada takzim kita, seperti sebait puisi
    Masih ada angin, seperti kemarin
    yang berulang-ulang kucatat diatas daun bathinku
    Lalu ingin aku mengajakmu kesana
    Menuruni ladang, merawat bunga-bunga dengan
    jantung berdegup
    seperti ketukan
    tangan kekasih di pintu doa-doa.
    Kita akan bercocok tanam harapan
    di kebun masa depan
    Berpegang erat tanganku, tanganmu
    Kangenku melihatmu tersipu malu
    Tersenyumlah, hidup ini mungkin
    seperti rasa lelah yang ingin dimengerti.
    Marilah pulang, teteh, jangan dulu menoleh ke belakang
    Sebelum malam habis, sisa-sisa embun jatuh
    dan tunas-tunas itu tumbuh

    10 maret 2007
    read more

    Subscribe