Monday, 15 February 2010

1

Puisi: Ketika Hujan, Tentang Kegelisahan

  • Monday, 15 February 2010
  • Unknown
  • Share

  • Hari ini, aku menemukan wajahmu diantara ribuan garis hujan.
    Suara gerimis terdengar miris menabuh bumi yang makin memburuk ini.
    Ah, cinta kita, kelak akan makin sempit menikmati wajah dunia,
    jarak kita akan semakin dingin dan menganga dalam kata-kata…
    Dengarlah,  lihatlah, usia alam telah memendam dendam pada manusia
    Air sungai yang kotor meluap ke rumah-rumah, mengendap dalam tidur kita,
    dan pohon-pohon tumbang menghadang jalan, ribuan tumbuhan rusak
    Sampah-sampah pamplet iklan dan politik menutupi lubang-lubang selokan dan pikiran kita
    Pabrik tak henti mengalirkan gelombang limbah pada hati kita
    Bumi sudah sakit, langit sudah terasa pahit di lidah harapan kita
    Kita begitu resah dalam putaran zaman
    Cinta kita terhimpit, waktu telah merampok usianya yang panjang
    Aku masih saja merindukanmu, di sini, diantara putaran malam dan siang yang terasa singkat
    Mimpiku dicekik detik-detik, dicambuki hari-hari, doaku memekik di bawah terik matahari.
    Aku gemetar menyulam cinta dalam gemuruh roda raksasa ekonomi yang keras menggilas nasib
    Berjalan ringkih dalam nyanyian sedih kaum penganggur yang membeli harapan dengan
    setumpuk amarah dan keputusasaan, terasing dalam jiwanya sendiri.
    Jiwaku dijajah berjuta wajah dalam koran-koran dan majalah
    Aku murung dalam sihir sinetron dan film-film
    Masa depan yang rumit dan mahal, Sayangku, betapa
    cinta kita dibuatnya resah dan mengalah.
    Hujan masih saja turun deras dalam pikiranku.
    Air sungai yang kotor meluap dalam puisiku.
    Aku berselisih dengan kemungkinan dan misteri.
    Tak henti melempar dadu di atas lingkar rindu yang terbakar.
    Betapa kita hidup di dunia yang mendidik cinta terbiasa patuh pada sengketa dan harta.
    Di sini, hujan masih saja turun deras, Sayang
    Air sungai berlumpur masih meluap dalam puisiku.
    Angin memangkas dedaun dan kata-kata.
    Cinta kita tak henti menggigil dalam dingin usia…
    EFM/ Cimahi, Februari 2010

    1 Responses to “Puisi: Ketika Hujan, Tentang Kegelisahan”

    oban sobandi said...
    18 March 2016 at 06:14

    asa waas kang...
    salam kawilujengan...


    Post a Comment

    Subscribe