Showing posts with label Fabel. Show all posts
Showing posts with label Fabel. Show all posts
Wednesday, 16 September 2009
0
Wednesday, 16 September 2009
Unknown
read more
Fabel: Hadiah Persahabatan
Ada seekor kambing, namanya Igot. Ia kambing yang pendiam dan penyendiri. Igot tinggal di desa seberang yang sepi. Karena di desanya tak ada kambing seusianya, setiap pagi ia sering menyempatkan diri bermain di lapangan desa domba, berharap bertemu teman bermain. Tapi ia sedih, tak ada yang mau menemaninya bermain di sana.
Sementara di desa itu, ada seekor kambing kecil bernama Pico. Ia sedih ketika melihat Igot bermain sendirian. Dalam hatinya Pico tak setuju ketika Arabito, tetangganya, sering mengajak teman-temannya mengejek Igot.
Melihat itu, Pico kemudian berlari menemui Mamanya di lapangan rumput, dan mulai menceritakan kesedihan dan kekesalannya. “Mama, kenapa tak ada yang mau menemani Igot bermain? Apa bedanya kambing dan domba, Mama?”
Mama Pico melirik anaknya, dan tersenyum. “Pico, jika kamu bersedih melihat Igot sendirian, kamu temani saja dia bermain, yah.” Saran Mama Pico lembut.
“Lalu bedanya kambing sama domba, Ma?” Tanya Pico. Mama Pico mengkerutkan kening merasa heran.
“Maksud kamu sayang, beda gimana? Kambing dan domba sama kan, sama-sama makhluk hidup. Makanya bersaudaralah, jangan bermusuhan. Kalo dari fisik, memang ada bedanya… “
“Bedanya apa, Mama?”
“Emm, apa aya…kalo kita itu lebih senang hidup berkelompok. Kalo kambing kayak Igot, biasanya menyendiri. Tapi bukan berarti Igot tak butuh teman…”
“Terus, Ma?”
“Apalagi ya…Oh, kita hampir sama dengan hewan lainnya, ekor menggantung ke bawah. Sedangkan Igot ekornya tegak ke atas dan pendek. Terus, tanduk kita cenderung melingkar ke arah belakang, dan kadangkala ke arah dalam, nah tanduk kambing lebih mengarah ke atas dan melingkar ke arah depan…”
“Terus, Ma?” Tanya Pico lagi, masih penasaran. Mamanya hanya tersenyum.
“Sudahlah, Pico. Nanti Mama jelasin lagi jelang kamu tidur. Perbedaan fisik tak penting untuk menjalin persahabatan. Sekarang, ajak bermain Igot. Kasihan dia menunggu…”
“Tapi temen-temen Pico melarang Pico bermain sama Igot, Mama…”
“Kenapa?” Tanya Mama Pico
“Katanya Igot itu jahat.”
“Apa Igot pernah berbuat jahat pada kamu, Pico? Apakah kamu sudah melihat Igot berbuat jahat pada teman-teman kamu?”
“Tak pernah, Mama. Belum, Mama…” jawab Pico pelan. Mamanya tersenyum lembut.
“Kalo informasinya belum jelas, jangan mudah percaya. Kamu tanyakan dulu hal itu sama Igot. Kalaupun Igot jahat, kamu mesti tetap ramah padanya, mendekatinya, menasehatinya…”
“Pico takut menyinggung perasaan Igot, Mama, kalo tanya sama Igot langsung…”
Mama Pico tersenyum lagi. “Kalo begitu, ajak bermain Igot. Nanti juga kamu tau bagaimana sifatnya.” ucap Mama Pico, tersenyum penuh pengertian. Pico balas tersenyum, wajahnya ceria, dan ia mulai berlari menuju arah Igot yang sudah tampak berjalan pulang.
“Igot!” panggil Pico. Yang dipanggil tampak kaget. Ketika melihat siapa yang memanggilnya, Igot terheran-heran.
“Yah, ada apa?” Tanya Igot agak gugup.
“Namaku Pico, maukah kau berteman dan bermain denganku?” Pico bertanya sambil tersenyum ramah.
“Benarkah, Pico?! Tentu saja mau!” Igot tampak girang. Pico mengangguk ramah. Akhirnya mereka kembali ke lapang desa, bermain bersama, tertawa bergembira.
Menyaksikan itu, sifat buruk Arabito muncul lagi. Ia iri melihat Igot gembira. Akhirnya ia mengajak teman-temannya untuk memarahi Igot. Setengah ketakutan, teman-temannya mengikuti apa mau Igot.
“Hei Igot!” seru Arabito, “kenapa kamu bermain di sini! Ini wilayah bermainku! Pergi sana ke desa kambing!” bentak Arabito. Igot gugup. Tapi kemudian Pico membela Igot.
“Bito, kamu jahat sekali, “ucap Pico, “Igot bermain di sini karena aku mengajaknya. Igot itu baik, ia hanya ingin bermain.”
Tapi Igot sangat bersedih, akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke desanya. Pico bingung. “Igoot! Tunggu!”
“Pico, ia itu jahat!” ucap Arabito, matanya tajam menatap Igot yang sudah mulai berjalan jauh.
“Apa Igot pernah berbuat jahat pada kamu, Bito? Apakah kamu sudah melihat Igot berbuat jahat pada teman-teman kamu?” Tanya Pico menirukan ucapan Mamanya. “Kamu menganggap Igot jahat hanya kamu sudah benci dan dengki padanya. Padahal kebencian kamu mengada-ada, penuh prasangka buruk, salah paham. Kamu jangan jadi pembenci dan pemarah, Bito, kata Mama itu sifat buruk, tak baik bagi kesehatanmu.”
Mendengar perkataan Pico, kemarahan Arabito semakin memuncak. Ia terus marah-marah, hingga suaranya tak enak di dengar. Teman-temannya saling berpandangan, dan mulai menjauhi Arabito. Melihat teman-teman menjauhinya, marah Arabito semakin tak terkendali. Akhirnya ia pulang ke kandangnya, sambil terus marah-marah. Ia sendirian, tak punya teman.
Menjelang siang, Igot datang lagi ke desa domba. Ia datang membawa gerobak kecil dan cantik, yang dipenuhi sedikit makanan dan mainan yang unik. Igot menemui Pico dan teman-temannya yang masih duduk di bawah pohon besar dekat lapang desa. Melihat Igot datang lagi, Pico dan teman-teman bersorak gembira.
“Ini hadiah persahabatan kita, aku dan ibuku yang bikin, spesial buat kalian. Aku ingin makan bareng kalian, bermain bersama.” Igot sumringah.
“Asyiiiik!” Pico dan teman-teman gembira.
“Tapi… di mana Bito?” Tanya Igot mencari-cari Arabito di kerumunan teman-teman barunya. Kemudian salah satu dari mereka bilang bahwa Arabito sakit.
“Sakit?” Igot kaget, “kalau begitu mari kita dorong gerobak ini, kita ajak Bito makan dan bermain di tempatnya. Ini juga hadiah buat Bito, mudah-mudahan ia cepat sembuh.”
“Ya, setuju!” ucap Pico dan teman-teman berbarengan.
Mereka pun menuju tempat tinggal Arabito. Arabito yang tengah berbaring sakit, sangat terkejut melihat kedatangan Igot dan yang lainnya. Tapi Igot cepat-cepat tersenyum dan bersikap ramah. Lalu ia menyerahkan sebuah makanan dan mainan yang cantik pada Arabito.
“Ini hadiah persahabatanku buat kamu, Bito…”
Mendengar itu, akhirnya Arabito pun tak kuasa menahan tangis.
“Ternyata hati kamu sangat baik, Igot. Aku menyesal telah berprasangka buruk sama kamu…Maafkan kesalahan aku selama ini, Igot.” Ucap Arabito dengan air mata yang mengalir deras.
Persahabatan Igot dan Arabito membuat semua teman-temannya gembira. “Kalau begitu, ayo kita makan bareng untuk merayakan persahabatan kita!” ajak Pico.
“Duh, aku tak bisa makan dan bermain, aku kan lagi sakit gigi, sakit kepala, dada panas, juga perut ini sakit nih…” keluh Arabito sambil meringis menahan gusi dan perutnya yang sakit.
Pico tersenyum, “Nah, apa Mamaku bilang, marah-marah, emosi tak terkontrol, dan sifat mudah membenci teman itu, akan membuat kamu sakit.”
Igot senyum-senyum malu.
“Nanti aku bawa lagi makanan lezat buat kamu, Bito, makanya cepat sembuh ya…” Ucap Igot. Semuanya tersenyum. Maka, mulai hari itu, mereka mulai menjalin persahabatan dengan bahagia, untuk selamanya…
Buat ponakan-ponakanku, Ramadhan, 16 September 2009
[Badru Tamam Mifka]
Wednesday, 13 August 2008
0
Wednesday, 13 August 2008
Unknown
read more
Fabel: Kisah Serigala di Negeri Kambing
Alkisah, di sebuah negeri kambing di hutan Nusantara, pemilihan kepala daerah rencananya akan dilaksanakan. Tapi panitia penyelenggara yang baru tiga hari dibentuk masih cemas karena sampai hari ini baru ada sepasang calon yang berani mendaftar. Bisik-bisik pun mulai terdengar di banyak tempat.
“Jadi pemimpin di negeri kambing memang susah. Tanggung jawabnya besar.”
“Ya, jadi pemimpin itu jangan coba-coba, tak hanya modal berani. Harus punya kejujuran, niat baik, kerja keras, dan keahlian.”
“Susahnya mengelola permasalahan…”
“Harus siap menderita melayani rakyat…”
Lantas siapa lagi yang berani mencalonkan diri? Nun jauh dari negeri kambing, ada empat ekor serigala mendengar kabar pemilihan kepala daerah itu.
“Grrgh, aku punya aide! Ada pribahasa bangsa manusia bilang, serigala berbulu domba. Grrgh, kalian paham maksudku?
“Umm, maksudmu menyamar jadi mereka?!”
“Cerdas!”
“Eh, maksudmu menyamar jadi manusia atau kambing?”
“Ya kambing, tolol!”
“Menyamar jadi kambing?!”
“Ya iya lah, masa ya iya dong! Bayangkan saja, jika kita tinggal di sana, tiap hari kita bisa makan kambing diam-diam, tanpa harus letih lari-lari mengejar.”
Hening sejenak. Mereka berpandangan, menyeringai.
“Sepakat!!!” Keempat serigala itu bersorak.
Mereka pun mulai mengatur siasat dan bekerja keras mati-matian berjuang menculik empat kambing menjelang subuh, mengambil bulu-bulunya dan berusaha merancang pakaian kambing. Berhari-hari mereka pelajari hal-ihwal perkambingan, sosio-kulturalnya, tingkah laku, kebiasaan, bahasa, politik, jenis-jenis rumput, olah vokal dan sebagainya. Mereka mulai menyamar. Setelah mereka rasa cukup, berangkatlah keempat serigala itu ke negeri kambing.
–o0o–
Sesampainya di negeri kambing, keempat serigala itu langsung bergiliran mengajukan diri jadi kandidat. Dengan memendam niat busuk, mereka mulai melakukan mobilisasi massa, mempengaruhi, pendekatan kebudayaan, sampai cuap-cuap obral janji penuh dusta. Berhari-hari mereka bahu-membahu mendekati rakyat kambing. Keempat serigala itu rela berpuasa tak makan daging, demi kepentingan politik.
“Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Kita menderita dulu tak makan daging, setelah terpilih nanti, kita makan mereka sepuasanya. Selamanya, bro.” Bisik seekor serigala pada kawannya.
“Ya, jaga wibawa, tetap meyakinkan. Kabarnya ada tiga pasang kandidat. Sepasang calon kambing bodoh itu akan jadi lawan kita. Jangan sampai mereka terpilih. Pokonya, salah satu pasangan dari kita harus menang, untuk masa depan perut kita!”
Grrgh…
Keempat pasangan serigala itu kemudian mulai menyiapkan materi kampanye yang penuh janji menggiurkan untuk rakyat kambing, tentang kesejahteraan dan keadilan. Keesokan harinya, mereka memulai kampanye di hadapan ribuan rakyat kambing. Dengan suara yang meyakinkan, keempat serigala itu mulai mengobral janji.
“Mbik, saudara-saudara sebangsa, jika kami terpilih nanti, kami janji akan bla…bla…”
“Ehem, hidup rakyat! Percayalah, pilihlah kami, dalam waktu setahun kami janji akan bla…bla…”
Begitulah, semua kandidat sudah menyampaikan kampanye politiknya. Rakyat kambing bersorak riuh. Mereka terpesona dengan janji-janji masa depan.
–o0o—
Keesokan harinya, pemilihan mulai dilakukan. Harap-harap cemas menunggu hasilnya. Seharian penghitungan suara dilakukan. Hasilnya, salah satu pasangan serigala yang menyamar akhirnya terpilih. Dalam hati mereka, keempat serigala itu bersuka-cita. Kemenangan salah satu pasangan dari mereka adalah jaminan bagi kebutuhan perut mereka di masa yang akan datang.
Setelah mereka menjabat di negeri kambing, mereka mulai melaksanakan niat busuknya. Diam-diam satu-persatu mereka terkam kambing, hampir setiap hari. Mereka melakukannya dengan santai, tanpa dicurigai. Siasat yang berhasil. Penyamaran yang sempurna.
Mereka juga menimbun daging kambing di suatu tempat di luar daerah. Setiap menjelang subuh, keempat serigala itu menyembunyikan daging sisa di semak-semak. Sampai suatu ketika, keempat serigala yang menyamar jadi kambing itu kepergok kawanan serigala yang lain. Ketika mereka tengah istirahat kekenyangan, keempat serigala yang lupa membuka pakaian kambingnya itu diterkam ramai-ramai.
“Grrgh, tumben nih kambing-kambing masuk sarang kita! Wow, makan besar!”
Keempat serigala yang menyamar terkejut bukan main.
“Oh, tidak! Kami adalah kawan kalian, kami serigala juga, kami sedang menyamar jadi kambing. Percayalah! Kami juga…”
Grrrgh.. Srreet… Krekh..
“Aaakh… Tolong! Percayalah! Kami juga serig…”
Tapi apa daya menghadapi gerombolan kawan-kawannya yang sangat lapar. Keempat serigala yang berpakaian kambing itu akhirnya mati dicabik-cabik kawan-kawanya sendiri. Mereka hancur dimakan, habis dilahap. Begitulah, perbuatan jahat akan mendapat balasannya. Mereka yang menipu, pemimpin yang tak punya niat baik pada rakyat, dan malah menyengsarakannya, akan segera menemukan kehancurannya…
Agustus 2008
Saturday, 2 February 2008
0
Saturday, 2 February 2008
Unknown
Seperti di negeri manusia, di negeri hutan pun kenyataan si kaya dan si miskin tampak sekali. Masalah pun muncul: kalangan pejabat, pengusaha dan konglomerat beruang, singa dan sedikit badak, yang berlindung di bawah selangkangan rezim, mempunyai kebebasan menentukan budak-budak hewan belian dari golongan rakyat lemah. Mereka, budak-budak hewan belian itu, bukan saja tak dianggap hewan yang punya hak asasi, melainkan diperjualbelikan dan dikerja-paksakan seperti manusia.
read more
Fabel: Demonstrasi
Hutan kian panas. Ratusan rakyat di negeri hutan melakukan demonstrasi menggugat sang diktator dan penindas. Para demonstran, dari mulai hewan mamalia sampai reptilia, tak henti berteriak. Barisan kuda meneriakkan perlawanan terhadap penggusuran dan penguasaan lahan oleh negara. Kelompok kelinci dan kambing menggugat kacaunya distribusi makanan. Kumpulan monyet mengutuk tindak kekerasan dan penindasan militer pemerintah. Kaum burung menggugat illegal loging yang dilakukan sindikat konglomerat dan pejabat. Yang lainnya meneriakkan “tidak” terhadap corak pemerintahan diktatorial rezim sang gajah yang penuh kolusi dan nepotisme.
Seperti di negeri manusia, di negeri hutan pun kenyataan si kaya dan si miskin tampak sekali. Masalah pun muncul: kalangan pejabat, pengusaha dan konglomerat beruang, singa dan sedikit badak, yang berlindung di bawah selangkangan rezim, mempunyai kebebasan menentukan budak-budak hewan belian dari golongan rakyat lemah. Mereka, budak-budak hewan belian itu, bukan saja tak dianggap hewan yang punya hak asasi, melainkan diperjualbelikan dan dikerja-paksakan seperti manusia.
Dalam bidang politik, mereka terbagi menjadi empat golongan: golongan yang kuat dan sombong, golongan yang lemah dan tertindas, golongan penjilat dan golongan misterius. Setiap golongan itu bekerja seperti sebuah drama penindasan tak terlihat dibelakang perkasanya sebuah kekuasaan. Hal itu diam-diam membakar hati rakyat. Dari mulai bisik-bisik, dendam, umpatan, hujatan beberapa kelompok kecil dan akhirnya merencanakan sebuah demonstrasi besar-besaran.
Puncaknya, rakyat hewan yang sebelumnya dibungkam dalam sebuah proses militerisasi represif dan terselubung, kini menghimpun kekuatan massa untuk melakukan demonstrasi dan perlawanan terhadap rezim. Hari demi hari aksi demonstrasi semakin besar. Dari sudut-sudut di antero hutan mulai ramai memuntahkan perlawanan. Bak mahasiswa di negeri manusia, mereka turun ke jalan. Kulit-kulit sapi kering yang di dunia manusia dipakai beduk, disana dijadikan media spanduk untuk menuliskan gugatan. Mereka meneriakkan perubahan dan bermuara pada teriakkan yang sama: Turunkan presiden gajah! Turunkan rezim gajah! Riuh demonstran menggetarkan hutan. Monyet marah. Kuda marah…
Mereka mulai merangsak menuju wilayah sarang pemerintah yang selama ini takut mereka lakukan. Mereka pun di hadang militer pemerintah, dari mulai gajah, badak, dan kerbau yang berbaris jadi pagar betis. Dari para demonstran, kelompok kuda jadi lapis terdepan. Di paling belakang, kelinci-kelinci memasok batu, molotov dan makanan. Komentar mereka, marah bisa bikin lapar. Aktivis juga butuh makan dan minum. Keributan pun terjadi antara tentara dan para demonstran yang bersikukuh masuk wilayah istana. Tapi kaum aktivis, yang memakai kekuatan rakyat, sudah tak bisa dikalahkan. Para demonstran akhirnya bisa menjebol hadang tentara.
Meski aksi demonstrasi sudah lama terjadi tetapi nun di dalam sana, di sarang pemerintah, keadaan masih tenang dan santai. Selama ini dianggap berkat militer yang berkerja dengan baik menghadang para demonstran. Seperti biasa, sang presiden gajah memasuki ruang rapat. Ia mulai berbicara dengan para menteri dan wakil presiden. Ia mulai menerima laporan. Satu persatu ditanya presiden, satu persatu memberikan laporan.
“Jadi kesimpulannya, sejauh ini tidak ada gejolak dalam negeri. Semuanya aman, Pak, baik-baik saja…” Menteri gajah berkaca mata tebal memberi laporan.
“Adakah ketidakpuasan di masyarakat?” tanya sang presiden gajah. Ia memutar belalainya, dan batuk-batuk. Wajahnya yang tua itu tampak pucat.
“Semua terkendali, Pak. Rakyat mendukung 100% kinerja pemerintahan dibawah kepemimpinan Anda, ya kita. Bahkan hampir 100% rakyat akan mendukung Anda dalam pemilu tahun depan.”
Hadirin rapat, yang semuanya gajah, bertepuk tangan meriah. Sang gajah manggut-manggut senang. Sesekali batuk-batuk. Setelah beberapa lamanya berbincang tentang agenda kunjungan kenegaraan ke luar negeri, sang presiden mulai berdiri hendak meninggalkan ruang rapat. Tapi tiba-tiba ia tersentak ketika mendengar keributan, ledakan dan teriakan-teriakan di luar istana. Dengan langkahnya yang berat dan ringkih, ia segera melihat dari jendela apa yang terjadi di luar istana.
Betapa terkejut ia melihat aksi demonstrasi. Para menteri segera menemui sang presiden dan mengatakan: Tenang, Pak, tenang. Itu hanya pesta, atau atraksi kesenian rakyat, atau semacam simulasi…
“Tidak, tidak. Itu demonstrasi!”
“Tenang Pak. Anda lebih baik masuk kamar dan istirahat.”
“Tidak bisa! Bagaimana saya bisa istirahat jika rakyat banyak menggugat! Lihatlah, mereka marah! Mengutuk saya! Apa yang terjadi selama ini?! Kenapa kalian sebagai pembantu-pembantu saya tak memberikan laporan-laporan objektif?!” Sang presiden menggeram. Mukanya merah dibakar marah. Para menteri, juru bicara, dan wakil presiden mencoba menenangkan sang presiden. Tapi keadaan bertambah buruk. Sang presiden marah besar. Ia ngamuk, dan tak lama kemudian megap-megap. Terkulai lemas. Sang presiden gajah terkena serangan jantung! Ia mati! Ia mati!
Gemparlah seluruh orang di dalam istana. Para menteri gajah mulai kelabakan. Mereka takut para demonstran akan menyerang istana. Satu persatu mereka pun melarikan diri. Wakil presiden stress. Ia pun bunuh diri di samping mayat presiden. Ikut mati.
Berita kematian sang presiden gajah dan wakilnya sampai di telinga para demonstran. Mereka sangat terkejut. Riuh demonstrasi mendadak diam. Senyap. Mereka saling pandang. Tak lama kemudian keriuhan meledak lagi. Suasana jadi kacau. Mereka pecah menjadi beberapa kelompok. Mendadak aksi demonstrasi berubah total menjadi aksi kampanye politik kelompok. Kalimat-kalimat gugatan serta perlawanan di spanduk kulit dihapus dan mulai diganti menjadi kalimat propaganda politik.
“Saya siap jadi presiden!”
“Saya siap jadi pengganti!”
“Saya mau dicalonkan dalam pemilu!”
“Saya juga mau dong!”
“Saya juga!”
Jerit pekik hewan bergemuruh saling berebut ingin jadi calon presiden, berebut ingin mengisi kekosongan kekuasaan. Kuda mencalonkan diri. Monyet mencalonkan diri. Kambing mencalonkan diri. Buaya juga…
Jatinangor, 2 Februari 2008
Wednesday, 16 January 2008
0
Wednesday, 16 January 2008
Unknown
read more
Fabel: Republik Ning Nong
Syahdan, di sebuah hutan di belahan bumi bagian timur, berdiri sebuah Negara hewan. Semua penghuni hutan itu menyebutnya Republik Ning Nong. Sudah 20 tahun berdiri dan pemilihan umum telah berulangkali dilakukan dengan demokratis. Partai-partai semakin tumbuh subur. Ada Partai Hutan Makmur. Ada Partai Rakyat Bahagia. Ada Partai Ning Nong Sejahtera, dan sebagainya. Warna-warna bendera partai menghiasi seantero hutan. Semua kubu mengajukan calon pemimpin setiapkali pemilihan umum berlangsung. Mereka semangat dan bersaing sehat.
Partai Hutan Makmur mengajukan kambing sebagai calon. Partai Rakyat Bahagia mencalonkan singa. Partai Ning Nong Sejahtera mengajukan gajah. Partai Rakyat Tak Luka mencalonkan ular. Setiap partai memiliki pasangannya. Seperti kambing dari Partai Hutan Makmur berpasangan dengan burung elang, dan seterusnya. Setiap rakyat hewan diberi hak bebas untuk memilih setiap pasangan calon menurut hati nuraninya masing-masing.
Tibalah pemilu pemilihan presiden periode baru. Pesta diadakan besar-besaran. Kampanye politik mulai santer terdengar di setiap penjuru hutan. Setiap calon bekerja keras merebut hati rakyat. Janji-janji ditebar, pidato politik berkobar, dan rakyat bersorak hingar. Monyet-monyet berjingkrak. Burung-burung bernyanyi. Harimau tepuk tangan. Gajah memainkan bendera dengan belalainya. Semua hewan penghuni hutan gembira mengikuti setiap kampanye politik calon presiden.
Tak ada kecurangan. Tak ada anarkis. Semuanya berjalan dengan baik. Sportivitas dijunjung tinggi. Siapapun yang menjadi pemenang, seluruh penghuni hutan akan menyambutnya dengan senang. Menjadi sebuah tradisi, setiap calon atas nama partai akan memberikan hadiah pada rakyat. Dari mulai pisang, wortel, dan makanan hewan lainnya. Pokoknya sembako dan bantuan lainnya, dari mulai uang sampai pembenahan semua fasilitas strategis di seluruh hutan.
Untuk menghindari konflik yang tidak diinginkan dan timbulnya asumsi-sumsi yang kurang baik, setiap calon mengakomodir setiap hadiah yang nantinya serempak diberikan pada rakyat langsung. Tak ada diskriminasi. Tak ada monopoli pembagian hadiah diam-diam oleh partai tertentu. Setiap partai patuh dan bekerjasama menurut prosedural yang telah ditentukan. Dilarang keras memaksakan pilihan dengan cara apapun. Tak ada money politik. Haramnya jual-beli suara sama haramnya dengan narkoba. Melanggar ketentuan itu, sama saja melukai demokrasi, mutlak masuk neraka.
Monyet senang mendapat pisang gratis. Dia tak perlu lagi bersusah-payah memanjat pohon. Begitupun yang lainnya. Semua rakyat hewan selalu dimanjakan setiapkali memasuki masa kampanye politik. Semuanya berjingkrak senang. Semuanya bersorak-sorai. Kuda meringkik senang. Anjing menggonggong, dan kafilah tak perlu berlalu. Karena sebentar lagi akan ada penghitungan suara.
Seluruh rakyat hewan hening. Perasaan mereka deg-degan mengikuti setiap penghitungan suara. Lalu muncullah Partai Ning Nong Sejahtera sebagai pemenang. Semua hewan bersorak. Gegap gempita. Semua hewan saling berpelukan. Setiap calon saling bersalaman. Semua penghuni hutan sama-sama merayakan kemenangan. Seekor gajah berdiri diatas panggung, pasangannya seekor kuda. Benar-benar pasangan yang serasi. Keduanya dipandang perkasa.
Maka selesailah pesta politik. Rakyat kembali ke tempatnya masing-masing, dan pejabat baru akan segera dibentuk di bawah naungan Kabinet Sejahtera. Sebuah tradisi rakyat pun kembali hadir. Setiapkali pemilu akbar usai, mereka selalu memberikan hadiah pada pejabat-pejabat pemerintahan yang baru terpilih. Rakyat berkumpul dan mengumpulkan bantuan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, mereka kembali mengumpulkan buku-buku, dari mulai buku-buku agama, buku tentang moral, tasawuf, etika politik, sampai pada buku-buku tentang bagaimana cara memimpin yang baik. Dari seluruh penjuru hutan, buku-buku itu dikumpulkan rakyat. Mereka mengirimnya ke istana pemerintah sebagai hadiah.
Setelah itu, keramaian kembali hening. Kemeriahan kembali reda. Seperti hari-hari biasanya, rakyat sibuk dengan aktivitasnya, dan para pejabat tenggelam dalam kesibukannya. Sampai seluruh rakyat hewan yakin, bahwa dibalik tembok istana itu, para pejabat tengah bekerja keras menyelesaikan tugas-tugas, memikirkan nasib mereka. Jangan ganggu mereka! Jangan ganggu mereka! Ssst, para pejabat butuh konsentrasi. Maka bertahun-tahun membuat jarak pengertian. Tak ada satupun rakyat yang berani mengusik istana yang megah, kecuali dua burung kecil yang setiap hari meloncat-loncat di setiap jendela istana dengan mata terperangah dan terbang ke angkasa, lalu hinggap di dahan cemara. Mereka bulung gelatik, pasangan suami isteri. Mereka hewan yang sentimentil. Ketika melihat asap membumbung tinggi ke angkasa saja mereka menangis tersedu-sedu.
“Hiks, kita semsetinya membuat buku dari besi atau logam yang tahan air. Tahan api. Tahan usia.” Ucap burung jantan.
“Benar, Mas. Tapi apa gak berlebihan? Manusia saja yang punya teknologi canggih tak sampai membuat buku dari besi…”Mereka menangis berdua, berpelukan, seperti baru saja ditinggal mati anak mereka.
“Mas, apakah kita boleh menipu dan menyeleweng?”
“Ah, manusia saja yang katanya makhluk sempurna dan punya akal hebat masih suka melakukan keduanya. Apalagi kita. Wajar.”
“Ko wajar, Mas?”
Si burung jantan tidak menjawab. Paruhnya hanya terbuka perlahan. Matanya tajam melihat anjing-anjing keluar dari istana menjinjing kaleng-kaleng minyak tanah. Lalu ia lemparkan pada api yang menyala. Wuss! Semakin tinggilah api menyala.
“Tuan, masih ada sampah yang harus dibakar?”
“Jing, ambil aja sampah baru di gudang belakang! Nanti kubayar kau! Mungpung ada lalu-lintas!” kuda memberi titah.
“Gaik!”
Sumedang, Januari 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)



