Showing posts with label Musikalisasi Puisi. Show all posts
Showing posts with label Musikalisasi Puisi. Show all posts
Wednesday, 24 February 2010
0
Wednesday, 24 February 2010
Unknown
SASINA (Sastra Indonesia) adalah kelompok musikalisasi puisi yang lahir di sebuah komunitas bernama IKSI (Ikatan Keluarga Sastra Indonesia) UI. Mereka mengaransemen puisi dari para penyair Indonesia dan menyanyikannya dengan konsep bermusik yang sederhana dan didukung oleh perpaduan vokal yang melodik. Kelompok musikalisasi puisi SASINA terdiri dari Ucha (vokal) Nia (vokal) Chitta (vokal) NU (vokal) Putri (vokal) Esthi (vokal) Ucup (gitar) Rasdi (gitar) Damar (keyboard). Anggota SASINA selalu beregenerasi, karena SASINA adalah wadah bagi pencinta puisi sekaligus musik bagi anggota IKSI (sasina on myspace).
read more
Musikalisasi Puisi SASINA
SASINA (Sastra Indonesia) adalah kelompok musikalisasi puisi yang lahir di sebuah komunitas bernama IKSI (Ikatan Keluarga Sastra Indonesia) UI. Mereka mengaransemen puisi dari para penyair Indonesia dan menyanyikannya dengan konsep bermusik yang sederhana dan didukung oleh perpaduan vokal yang melodik. Kelompok musikalisasi puisi SASINA terdiri dari Ucha (vokal) Nia (vokal) Chitta (vokal) NU (vokal) Putri (vokal) Esthi (vokal) Ucup (gitar) Rasdi (gitar) Damar (keyboard). Anggota SASINA selalu beregenerasi, karena SASINA adalah wadah bagi pencinta puisi sekaligus musik bagi anggota IKSI (sasina on myspace).
Musikalisasi Puisi SASINA:
SASINA -Dengan Senja
SASINA -Dongeng Kecil
SASINA -Lagu Cinta
SASINA -Masih Ada Matahari
SASINA -Membaca Kabut
SASINA -Perkawinan
SASINA -Doa Bunda
SASINA -Senja Pegunungan
SASINA -Suci
SASINA -Takut
SASINA -Dongeng Kecil
SASINA -Lagu Cinta
SASINA -Masih Ada Matahari
SASINA -Membaca Kabut
SASINA -Perkawinan
SASINA -Doa Bunda
SASINA -Senja Pegunungan
SASINA -Suci
SASINA -Takut
SASINA – Doa Bunda
SASINA -Membaca Kabut
0
Unknown
Umbu Landu Paranggi adalah seorang penyair Indonesia yang sering disebut sebagai tokoh misterius dalam dunia sastra Indonesia sejak 1960-an. Lahir di Sumba, 10 Agustus 1943; umur 66 tahun. Pada tahun 1970-an ia membentuk komunitas penyair Malioboro di Yogyakarta. Walaupun dikenal sebagai mentor berbagai penyair “lulusan” Malioboro terkenal, seperti Emha Ainun Nadjib dan almarhum Linus Suryadi AG, ia sendiri seperti menjauh dari popularitas dan publik. Ia konon sering “menggelandang” sambil membawa kantung plastik berisi kertas-kertas, yang tidak lain adalah naskah-naskah puisi koleksinya. Orang-orang menyebutnya “pohon rindang” yang menaungi bahkan telah membuahkan banyak sastrawan kelas atas, tapi ia sendiri menyebut dirinya sebagai “pupuk” saja. “Kalau ada kata untuk mengungkapkan yang lebih sederhana, saya akan memakainya”, begitu kata salah satu muridnya ketika menggambarkan kesederhaannya. “Kamu boleh mengidolakan seseorang, tapi jadilah dirimu sendiri”. Itulah salah satu kata yang pernah keluar dari bibirnya. [wikipedia]. Untuk memasyarakatkan puisi-puisi Umbu, penyair Tan Lioe Ie yang juga seorang mantan penyanyi pub mengaransemen sejumlah puisi Umbu menjadi karya musikalisasi puisi dan telah terkumpul dalam sebuah album sederhana berjudul kuda putih.
read more
Musikalisasi Puisi Umbu Landu Paranggi (Tan Lioe Ie, dkk.)
Umbu Landu Paranggi adalah seorang penyair Indonesia yang sering disebut sebagai tokoh misterius dalam dunia sastra Indonesia sejak 1960-an. Lahir di Sumba, 10 Agustus 1943; umur 66 tahun. Pada tahun 1970-an ia membentuk komunitas penyair Malioboro di Yogyakarta. Walaupun dikenal sebagai mentor berbagai penyair “lulusan” Malioboro terkenal, seperti Emha Ainun Nadjib dan almarhum Linus Suryadi AG, ia sendiri seperti menjauh dari popularitas dan publik. Ia konon sering “menggelandang” sambil membawa kantung plastik berisi kertas-kertas, yang tidak lain adalah naskah-naskah puisi koleksinya. Orang-orang menyebutnya “pohon rindang” yang menaungi bahkan telah membuahkan banyak sastrawan kelas atas, tapi ia sendiri menyebut dirinya sebagai “pupuk” saja. “Kalau ada kata untuk mengungkapkan yang lebih sederhana, saya akan memakainya”, begitu kata salah satu muridnya ketika menggambarkan kesederhaannya. “Kamu boleh mengidolakan seseorang, tapi jadilah dirimu sendiri”. Itulah salah satu kata yang pernah keluar dari bibirnya. [wikipedia]. Untuk memasyarakatkan puisi-puisi Umbu, penyair Tan Lioe Ie yang juga seorang mantan penyanyi pub mengaransemen sejumlah puisi Umbu menjadi karya musikalisasi puisi dan telah terkumpul dalam sebuah album sederhana berjudul kuda putih.
Musikalisasi Puisi Umbu Landu Paranggi:
Tan Lioe Ie, dkk. – Tujuh Cemara
Tan Lioe Ie, dkk. – Co Kong Tik
Tan Lioe Ie, dkk. – Gemuruh Laut
Tan Lioe Ie, dkk. – Upacara XXIII
Tuesday, 23 February 2010
0
Tuesday, 23 February 2010
Unknown
“Puisi adalah pikiran yang musikal”, kata Thomas Carlye Jika puisi adalah musik, mengapa harus dibuat musikalisasi puisi? Justru karena puisi itu musik, lebih “enak” jika diiringi instrumen musik. Musik adalah bahasa yang universal. Kita dapat menikmati musik instrumen atau lagu-lagu berbahasa asing walaupun tidak memahami makna lirik lagunya. Begitupun puisi, kata-kata dalam puisi penuh dengan konotasi, simbol, metafora. Puisi sering dihindari karena menuntut kita untuk mengaktifkan imajinasi dan pikiran (sebagian besar tidak suka berpikir). Puisi yang diolah menjadi musikalisasi puisi setidak-tidaknya diharapkan akan lebih mudah mendekatkan puisi kepada khalayak yang lebih luas. Dengan demikian, puisi dapat lebih diapresiasi oleh masyarakat yang lebih luas. Selamat menikmati musikalisasi puisi yang diambil dari kumpulan puisi “Ketika Engkau Menagih Puisi” (Agus Nasihin) dan “Bolehkah Merindu” (Yanti Sri Budiarti). Terima kasih. (Agus Nasihin & Yanti Sri Budiarti)
read more
Musikalisasi Puisi “Depan Cermin” (Puisi-puisi Agus Nasihin & Yanti Sri Budiarti)
“Puisi adalah pikiran yang musikal”, kata Thomas Carlye Jika puisi adalah musik, mengapa harus dibuat musikalisasi puisi? Justru karena puisi itu musik, lebih “enak” jika diiringi instrumen musik. Musik adalah bahasa yang universal. Kita dapat menikmati musik instrumen atau lagu-lagu berbahasa asing walaupun tidak memahami makna lirik lagunya. Begitupun puisi, kata-kata dalam puisi penuh dengan konotasi, simbol, metafora. Puisi sering dihindari karena menuntut kita untuk mengaktifkan imajinasi dan pikiran (sebagian besar tidak suka berpikir). Puisi yang diolah menjadi musikalisasi puisi setidak-tidaknya diharapkan akan lebih mudah mendekatkan puisi kepada khalayak yang lebih luas. Dengan demikian, puisi dapat lebih diapresiasi oleh masyarakat yang lebih luas. Selamat menikmati musikalisasi puisi yang diambil dari kumpulan puisi “Ketika Engkau Menagih Puisi” (Agus Nasihin) dan “Bolehkah Merindu” (Yanti Sri Budiarti). Terima kasih. (Agus Nasihin & Yanti Sri Budiarti)
“Setiap orang memerlukan ‘makanan’ yang bermutu bagi jiwanya. Musik dan lagu merupakan salah satu ‘makanan’ jiwa. Musik dan lagu yang bermutu adalah yang memiliki kedalaman makna. Musikalisasi puisi adalah makanan yang bergizi. Musikalisasi puisi juga dapat menjadi jembatan bagi kualitas apresiasi musik dan apresiasi puisi.”
-Agus Nasihin
-Agus Nasihin
A. Bima Sutisna dan Agus Nasihin telah membuat album VCD Musikalisasi puisi Agus Nasihin & Yanti Sri Budiarti dengan judul DEPAN CERMIN. Album ini dibuat sebagai bahan apresiasi sastra (Puisi). Pencipta lagu dan penata musik pada album Depan Cermin ini adalah A. Bima Sutisna, yang dalam penggarapannya dibantu oleh musisi-musisi muda berbakat yang tergabung dalam grup band Aktor Orchestra, di antaranya En’s Hengki danTriandi Purnama Ramadhan.
Berapapun kadar kualitas lagu dan musik yang saya buat, semata-mata hanyalah ungkapan rasa syukur yang sangat sederhana atas karunia Allah yang Maha Luas dan Tak Terhingga.
-A. Bima Sutisna (Pecipta Lagu, Penata Musik & Vokal)
Musikalisasi Puisi Agus Nasihin & Yanti Sri Budiarti
01. A. Bima Sutisna – Iqra (Puisi Agus Nasihin).mp3
02. A. Bima Sutisna – Depan Cermin (Puisi Agus Nasihin).mp3
03. A. Bima Sutisna – Bolehkah Merindu (Puisi Yanti Sri Budiarti).mp3
04. A. Bima Sutisna – Ketika Kau Ragukan Aku (Puisi Agus Nasihin).mp3
05. A. Bima Sutisna – Ketika Engkau Menagih Puisi (Puisi Agus Nasihin).mp3
06. A. Bima Sutisna – Helatan Pelangi (Puisi Yanti Sri Budiarti).mp3
07. A. Bima Sutisna – Salam (Puisi Agus Nasihin).mp3
08. A. Bima Sutisna – Di Hujan (Puisi Yanti Sri Budiarti).mp3
09. A. Bima Sutisna – Istirahlah (Puisi Agus Nasihin).mp3
10. A. Bima Sutisna – Kuterjemahkan Pedih (Puisi Yanti Sri Budiarti).mp3
11. A. Bima Sutisna – Buat Alia dan Ibunya (Puisi Agus Nasihin).mp3
Album VCD: DEPAN CERMIN
Pencipta Lagu & Penata Musik: A. Bima Sutisna
Aktor Orchestra – Bandung, 2009
BELI VIDEO CD
DAN ALBUM LENGKAPNYA!
DAN ALBUM LENGKAPNYA!
Saturday, 5 December 2009
0
Saturday, 5 December 2009
Unknown
read more
Puisi: Doa Bulan Desember
Buat Mien Ardiwinata
Harum shubuh seusai terpejam, Mam,
menyisakan cintamu yang disimpan dengan
kesabaran yang terbaik dari cawan kehidupan.
Seperti rahimmu yang dulu demikian tabah menumbuhkan anak-anak
yang kini mengirim takzim di setiap warna musim.
menyisakan cintamu yang disimpan dengan
kesabaran yang terbaik dari cawan kehidupan.
Seperti rahimmu yang dulu demikian tabah menumbuhkan anak-anak
yang kini mengirim takzim di setiap warna musim.
Inilah yang tersisa, inilah yang berharga,
mengolah hidup dan mensyukuri hari-hari
dengan cinta yang merunduk di atas sajadah
yang merawat aroma isyarat tentang
harapan dan jiwa yang kuat.
mengolah hidup dan mensyukuri hari-hari
dengan cinta yang merunduk di atas sajadah
yang merawat aroma isyarat tentang
harapan dan jiwa yang kuat.
Inilah doa bagi Bunda, kelak mengekal tanpa jeda.
Karena usia ini, seperti taman cinta dan cita-cita yang tak pernah sepi,
menumbuhkan dzikir bunga-bunga pada warna langit
yang tetap merahasia dalam kata-kata,
menumbuhkan kesetiaan dan kasih sayang
yang tak tak pernah hilang dalam hati seorang ibu.
Karena usia ini, seperti taman cinta dan cita-cita yang tak pernah sepi,
menumbuhkan dzikir bunga-bunga pada warna langit
yang tetap merahasia dalam kata-kata,
menumbuhkan kesetiaan dan kasih sayang
yang tak tak pernah hilang dalam hati seorang ibu.
Cinta yang ditanam bertahun-tahun dengan air mata,
ternyata tak pernah berakhir sia-sia.
Ia menjadi doa, puisi, dan seribu pelukan para kekasih
yang bisa menghapus kesedihan dan keletihan
sepanjang senja ini. Maka tersenyumlah, Mam,
seperti ranum doa pada kesunyian ibadah
Dan berbahagialah seperti harum cinta
dalam kerinduan yang tak pernah lelah
ternyata tak pernah berakhir sia-sia.
Ia menjadi doa, puisi, dan seribu pelukan para kekasih
yang bisa menghapus kesedihan dan keletihan
sepanjang senja ini. Maka tersenyumlah, Mam,
seperti ranum doa pada kesunyian ibadah
Dan berbahagialah seperti harum cinta
dalam kerinduan yang tak pernah lelah
Harum shubuh seusai terpejam, Mam,
menerjemahkan cintamu yang tak pernah habis,
seperti sentuhan garis-garis gerimis pada wajah bumi…
Yang tak pernah henti,
seperti sentuhan matahari pada wajah bumi…
menerjemahkan cintamu yang tak pernah habis,
seperti sentuhan garis-garis gerimis pada wajah bumi…
Yang tak pernah henti,
seperti sentuhan matahari pada wajah bumi…
Ciromed, 05 September 2009 08:47
Selamat ulang tahun, Mam, tetap sehat dan bahagia….
Subscribe to:
Posts (Atom)




