Wednesday, 16 September 2009

0

Fabel: Hadiah Persahabatan

  • Wednesday, 16 September 2009
  • viddaily
  • Share
  • Ada seekor kambing, namanya Igot. Ia kambing yang pendiam dan penyendiri. Igot tinggal di desa seberang yang sepi. Karena di desanya tak ada kambing seusianya, setiap pagi ia sering menyempatkan diri bermain di lapangan desa domba, berharap bertemu teman bermain. Tapi ia sedih, tak ada yang mau menemaninya bermain di sana.
    Sementara di desa itu, ada seekor kambing kecil bernama Pico. Ia sedih ketika melihat Igot bermain sendirian. Dalam hatinya Pico tak setuju ketika Arabito, tetangganya, sering mengajak teman-temannya mengejek Igot.
    Melihat itu, Pico kemudian berlari menemui Mamanya di lapangan rumput, dan mulai menceritakan kesedihan dan kekesalannya. “Mama, kenapa tak ada yang mau menemani Igot bermain? Apa bedanya kambing dan domba, Mama?”
    Mama Pico melirik anaknya, dan tersenyum. “Pico, jika kamu bersedih melihat Igot sendirian, kamu temani saja dia bermain, yah.” Saran Mama Pico lembut.
    “Lalu bedanya kambing sama domba, Ma?” Tanya Pico. Mama Pico mengkerutkan kening merasa heran.
    “Maksud kamu sayang, beda gimana? Kambing dan domba sama kan, sama-sama makhluk hidup. Makanya bersaudaralah, jangan bermusuhan. Kalo dari fisik, memang ada bedanya… “
    “Bedanya apa, Mama?”
    “Emm, apa aya…kalo kita itu lebih senang hidup berkelompok. Kalo kambing kayak Igot, biasanya menyendiri. Tapi bukan berarti Igot tak butuh teman…”
    “Terus, Ma?”
    “Apalagi ya…Oh, kita hampir sama dengan hewan lainnya, ekor menggantung ke bawah. Sedangkan Igot ekornya tegak ke atas dan pendek. Terus, tanduk kita cenderung melingkar ke arah belakang, dan kadangkala ke arah dalam, nah tanduk kambing lebih mengarah ke atas dan melingkar ke arah depan…”
    “Terus, Ma?” Tanya Pico lagi, masih penasaran. Mamanya hanya tersenyum.
    “Sudahlah, Pico. Nanti Mama jelasin lagi jelang kamu tidur. Perbedaan fisik tak penting untuk menjalin persahabatan. Sekarang, ajak bermain Igot. Kasihan dia menunggu…”
    “Tapi temen-temen Pico melarang Pico bermain sama Igot, Mama…”
    “Kenapa?” Tanya Mama Pico
    “Katanya Igot itu jahat.”
    “Apa Igot pernah berbuat jahat pada kamu, Pico? Apakah kamu sudah melihat Igot berbuat jahat pada teman-teman kamu?”
    “Tak pernah, Mama. Belum, Mama…” jawab Pico pelan. Mamanya tersenyum lembut.
    “Kalo informasinya belum jelas, jangan mudah percaya. Kamu tanyakan dulu hal itu sama Igot. Kalaupun Igot jahat, kamu mesti tetap ramah padanya, mendekatinya, menasehatinya…”
    “Pico takut menyinggung perasaan Igot, Mama, kalo tanya sama Igot langsung…”
    Mama Pico tersenyum lagi. “Kalo begitu, ajak bermain Igot. Nanti juga kamu tau bagaimana sifatnya.” ucap Mama Pico, tersenyum penuh pengertian. Pico balas tersenyum, wajahnya ceria, dan ia mulai berlari menuju arah Igot yang sudah tampak berjalan pulang.
    “Igot!” panggil Pico. Yang dipanggil tampak kaget. Ketika melihat siapa yang memanggilnya, Igot terheran-heran.
    “Yah, ada apa?” Tanya Igot agak gugup.
    “Namaku Pico, maukah kau berteman dan bermain denganku?” Pico bertanya sambil tersenyum ramah.
    “Benarkah, Pico?! Tentu saja mau!” Igot tampak girang. Pico mengangguk ramah. Akhirnya mereka kembali ke lapang desa, bermain bersama, tertawa bergembira.
    Menyaksikan itu, sifat buruk Arabito muncul lagi. Ia iri melihat Igot gembira. Akhirnya ia mengajak teman-temannya untuk memarahi Igot. Setengah ketakutan, teman-temannya mengikuti apa mau Igot.
    “Hei Igot!” seru Arabito, “kenapa kamu bermain di sini! Ini wilayah bermainku! Pergi sana ke desa kambing!” bentak Arabito. Igot gugup. Tapi kemudian Pico membela Igot.
    “Bito, kamu jahat sekali, “ucap Pico, “Igot bermain di sini karena aku mengajaknya. Igot itu baik, ia hanya ingin bermain.”
    Tapi Igot sangat bersedih, akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke desanya. Pico bingung. “Igoot! Tunggu!”
    “Pico, ia itu jahat!” ucap Arabito, matanya tajam menatap Igot yang sudah mulai berjalan jauh.
    “Apa Igot pernah berbuat jahat pada kamu, Bito? Apakah kamu sudah melihat Igot berbuat jahat pada teman-teman kamu?” Tanya Pico menirukan ucapan Mamanya. “Kamu menganggap Igot jahat hanya kamu sudah benci dan dengki padanya. Padahal kebencian kamu mengada-ada, penuh prasangka buruk, salah paham. Kamu jangan jadi pembenci dan pemarah, Bito, kata Mama itu sifat buruk, tak baik bagi kesehatanmu.”
    Mendengar perkataan Pico, kemarahan Arabito semakin memuncak. Ia terus marah-marah, hingga suaranya tak enak di dengar. Teman-temannya saling berpandangan, dan mulai menjauhi Arabito. Melihat teman-teman menjauhinya, marah Arabito semakin tak terkendali. Akhirnya ia pulang ke kandangnya, sambil terus marah-marah. Ia sendirian, tak punya teman.
    Menjelang siang, Igot datang lagi ke desa domba. Ia datang membawa gerobak kecil dan cantik, yang dipenuhi sedikit makanan dan mainan yang unik. Igot menemui Pico dan teman-temannya yang masih duduk di bawah pohon besar dekat lapang desa. Melihat Igot datang lagi, Pico dan teman-teman bersorak gembira.
    “Ini hadiah persahabatan kita, aku dan ibuku yang bikin, spesial buat kalian. Aku ingin makan bareng kalian, bermain bersama.” Igot sumringah.
    “Asyiiiik!” Pico dan teman-teman gembira.
    “Tapi… di mana Bito?” Tanya Igot mencari-cari Arabito di kerumunan teman-teman barunya. Kemudian salah satu dari mereka bilang bahwa Arabito sakit.
    “Sakit?” Igot kaget, “kalau begitu mari kita dorong gerobak ini, kita ajak Bito makan dan bermain di tempatnya. Ini juga hadiah buat Bito, mudah-mudahan ia cepat sembuh.”
    “Ya, setuju!” ucap Pico dan teman-teman berbarengan.
    Mereka pun menuju tempat tinggal Arabito. Arabito yang tengah berbaring sakit, sangat terkejut melihat kedatangan Igot dan yang lainnya. Tapi Igot cepat-cepat tersenyum dan bersikap ramah. Lalu ia menyerahkan sebuah makanan dan mainan yang cantik pada Arabito.
    “Ini hadiah persahabatanku buat kamu, Bito…”
    Mendengar itu, akhirnya Arabito pun tak kuasa menahan tangis.
    “Ternyata hati kamu sangat baik, Igot. Aku menyesal telah berprasangka buruk sama kamu…Maafkan kesalahan aku selama ini, Igot.” Ucap Arabito dengan air mata yang mengalir deras.
    Persahabatan Igot dan Arabito membuat semua teman-temannya gembira. “Kalau begitu, ayo kita makan bareng untuk merayakan persahabatan kita!” ajak Pico.
    “Duh, aku tak bisa makan dan bermain, aku kan lagi sakit gigi, sakit kepala, dada panas, juga perut ini sakit nih…” keluh Arabito sambil meringis menahan gusi dan perutnya yang sakit.
    Pico tersenyum, “Nah, apa Mamaku bilang, marah-marah, emosi tak terkontrol, dan sifat mudah membenci teman itu, akan membuat kamu sakit.”
    Igot senyum-senyum malu.
    “Nanti aku bawa lagi makanan lezat buat kamu, Bito, makanya cepat sembuh ya…” Ucap Igot. Semuanya tersenyum. Maka, mulai hari itu, mereka mulai menjalin persahabatan dengan bahagia, untuk selamanya…
    Buat ponakan-ponakanku, Ramadhan, 16 September 2009
    [Badru Tamam Mifka]

    0 Responses to “Fabel: Hadiah Persahabatan”

    Post a Comment

    Subscribe