Tuesday, 10 April 2007

0

Cerpen: Taman Air Mata 1

  • Tuesday, 10 April 2007
  • viddaily
  • Share
  • Bukan Cerpen, tapi Cerpan :D

    No se puede vivir sin amor…

    I
    Taman tua itu amat sepi. Baru setahun hasil renovasi. Tapi. konon, tak ada seorangpun yang mau lewat atau duduk disana saat malam datang. Tempatnya gelap. Pohon-pohon yang besar dan lampu taman yang agak redup. Dulu, pohon-pohonnya lebih banyak dan kondisi taman rusak berat. Tapi dulu dan sekarang, taman itu masih saja tetap memberi nuansa aneh. Jika kini kau melihat taman tua itu selintas, kau akan menyangka bahwa tempat itu wilayah pekuburan yang sangat angker. Tak ada yang berani kesana. Bahkan dua muda-mudi yang kebelet ingin pacaran pun tak memilih taman itu sebagai ruang ekspresi darurat. Maling keparat sekalipun enggan lari dan sembunyi disana. Ia seperti tempat yang mengerikan nan jahanam. Di sudut sebelah timur taman itu, kau akan melihat dinding tembok yang tinggi berbentuk kubus tanpa pintu masuk dan lubang udara. Itu area terlarang. Pemerintah setempat sengaja membuat dinding tinggi yang kokoh itu untuk menutupi sebuah patung yang dalam sejarahnya dianggap benda keramat oleh sebagian penduduk disana untuk melakukan aneka praktek sesat.

    Jika siang datang, berjalanlah agak dekat. Disana kau akan melihat sebuah bangunan kecil dan tua, sebuah pos jaga, nyaris tak terurus. Tak beda dengan suasana malam, di siang harinya taman juga tetap sepi. Tetapi jika kau memasuki pagar besi dan berjalan lebih dekat dengan bangunan kecil bertembok itu, kau akan benar-benar dikejutkan suara lelaki yang menangis pilu di dalam pos jaga itu. Jika kau berani mengintipnya lewat jendela, kau akan melihat lelaki gila renta dengan kulit keriput meringkuk di sudut kamar yang agak gelap. Kedua kakinya terpasung sebatang kayu besar terbelah berlubang dua, belahan dengan pasak yang kuat hingga kaki yang kurus yang dirantai dalam himpitan lubangnya tak bergerak lebih leluasa. Jika kau lebih berani membuka pintunya, cahaya matahari akan merasuk garang ke ruangan itu dan kau akan lebih jelas menemukan seseorang yang terpasung sangat menyedihkan. Ia akan tertawa-tawa, tak lama lalu menangis, tak lama lalu tertawa lagi. Rambutnya kusut. Jambangnya dan kumisnya lebat hingga bibirnya nyaris tak terlihat. Wajahnya berdaki, penuh luka di bagian kening dan pelipisnya. Bajunya penuh robekan, kotor, dan bau. Matanya yang kekuningan akan menatap kedua matamu dengan tajam. Setelah itu ia akan berteriak tak karuan dan akhirnya bertanya padamu, seperti pertanyaan yang sama pada setiap orang yang kebetulan berani masuk kesana: “Apa kau punya cinta? Berapa harganya? Apa kau punya cinta?! Berapa harganya?!” lalu kau akan mendengar ia menangis lagi, tertawa-tawa lagi, nyanyi dan menangis lagi dengan suara yang memilukan. Tanyalah pada setiap orang, siapa dia.
    Dia disebut si Gila. Inilah kisahnya…

    Kisah ini terjadi sembilan tahun yang lalu. Pada awalnya si Gila itu dalah seorang penulis yang diupah jadi penjaga taman. Namanya Sukidi. Dia diupah walikota untuk menjaga taman tua yang tak laku—upah yang seharusnya datang perbulan tapi seringkali Sukidi tak mendapat bayaran. Siapa peduli taman ini, tak ada yang peduli. Siang dan malam, Sukidi mengisi kesehariannya dengan menyapu jalan dan sudut-sudut taman dari dedaun kering pohon beringin yang jatuh. Hari-harinya diisi dengan kesendirian. Ia sering berlama-lama menatap langit, menulis berlembar-lembar, mencatat tentang apa saja yang ia lihat dan rasakan. Betapa ia merasa amat kesepian dalam kesendiriannya. Sepanjang dia menjaga taman, dia belum pernah bicara panjang lebar dengan seseorang yang kebetulan duduk di taman. Taman ini tidak populer hingga tak begitu ramai. Ada juga satu atau dua orang yang kebetulan lewat, lalu duduk dan setengah jam kemudian bergegas pergi. Sukidi tahu, tak ada yang betah berlama-lama disana. Mungkin tempatnya tak menghibur.

    Tetapi, beberapa hari kemudian, Sukidi tiba-tiba didatangi seorang pemuda. Ia minta ijin pada Sukidi ingin memakai sudut sebelah timur taman itu untuk proyek membuat patung dari tanah liat. Pemuda itu sepertinya bertubuh kurus, hanya jaketnya saja yang tebal. Ketika jaketnya dibuka, penampilannya cukup rapi dengan baju kemeja, celana jeans, sepatu kulit dan ransel. Rambutnya agak gondrong. Mungkin dia seniman, pikir Sukidi. Tak banyak pertimbangan, Sukidi akhirnya mengijinkan pemuda itu memakai sebagian taman. Setiap sore Sukidi melihat pemuda itu mengangkut tanah liat dari tempat jauh nun disana, menumpuknya dan membentuknya. Tak ayal, penampilan yang awalnya rapi kini kotor penuh lumpur. Jika malam datang, pemuda itu keras-keras membaca puisi-puisi. Sukidi seperti mendengar mantra-mantra. Sukidi selalu berharap dia bukan orang sinting.
    Hari demi hari, pemuda itu masih tampak disana; mengangkut tanah liat, membentuknya, berpuisi dan seterusnya dan seterusnya. Sukidi tak pernah melihat pemuda itu tidur sebelum tengah malam. Ia selalu kelihatan asyik membentuk wajah patung. Tampaknya, ia berusaha membuat sebuah patung perempuan setengah badan…

    Bersambung ke: Taman Air Mata 2

    0 Responses to “Cerpen: Taman Air Mata 1”

    Post a Comment

    Subscribe