Wednesday, 11 January 2006

0

Habis Toga, Terbitlah Laga

  • Wednesday, 11 January 2006
  • Unknown
  • Share
  • Ketika anaknya memakai toga dalam momen wisuda, orang tuanya bangga. Mengenai soal skripsi beli atau buatan orang, itu soal lain; yang penting, ada ijasah, ada dokumentasi fhoto wisuda, mendapat gelar dan berjabat tangan dengan orang sekampung…

    Setiap di wisuda, mahasiswa gembira bukan kepalang, mungkin seperti kegembiraan orang yang sudah naik haji, maksudnya sama-sama gembira menuliskan nama lebih panjang seperti biasanya, sama-sama punya gelar. Misal, sebut saja Entang Kolentang S.Fil.i, tetangga saya; Ibro S.sos.i, teman kawan saya, dan seterusnya.

    Bicara soal gelar dan wisuda, suatu hari sambil minum goyobod di seputar kampus, seorang sarjana yang tak mau disebut namanya mengurai akronim wisuda, yaitu WIlujeung SUsah DAmel. Pertanyaan-pertanyaan yang kemudian terpaksa muncul: kenapa para sarjana susah damel? Apa sih fungsi gelar? Kenapa juga instansi-instansi menganggap bicara tentang gelar prosfektif dan gelar tak-prospektif sembari mengabaikan tahap kualitas? Apa fungsi sarjana bagi masyarakat? Benarkah bekerja harus menggunakan gelar? Apa gelar hanya sebentuk prestise yang banyak bicara tentang layak dan tidak layak bekerja di-ini dan di-itu? Apa sarjana malu menjadi pekerja kasar dan pedagang kecil? Apa itu ‘bekerja’? Apa memang kampus itu pabrik yang hanya mencetak ‘pegawai’? Apakah ilmu-ilmu sudah tak dipakai lagi selepas wisuda? Apa memang ada error dalam pola pikir, orientasi dan mentalitas mahasiswa? Apa ada yang salah dengan lembaga pendidikan kita? Ada yang salah dengan sistem-sistem? Apa ada yang salah dalam konstruksi dan citra di masyarakat terhadap sarjana? Apa tak ada alternatif kerja bagi sarjana selain kerja formal-prosedural-tekhnokratis? Atau benarkah pribahasa ini: “Habis toga dan bangga, maka terbitlah susah kerja di medan laga.”?

    Catatan Harian Tahun 2006

    0 Responses to “Habis Toga, Terbitlah Laga”

    Post a Comment

    Subscribe