Monday, 10 January 2005

0

Puisi: Jalan Setapak dari Tanah Air

  • Monday, 10 January 2005
  • Unknown
  • Share
  • –tentang Nirmala Bonat

    Jalan stapak dari tanah air itu menepi impian
    Di negeri lain, di dalam tas itu, ada aroma jalan
    Terbawa diantara tumpukkan baju gadis sembilan belasan
    Yang bau parfum murahan, bau tumpahan teh dan noda perih

    Entah shubuh keberapa lewat
    Barangkali ada mata yang terjaga sealu
    Diseputar pejam yang hangat, yang liat

    Tetapi kesetiaan itu, Tuan dan Nyonya, mau bertahan
    Melayani sisa-sisa luka yang pelan dirobek
    Seperti angka-angka di kalender
    Sebab kalian meminta, lalu anak-anak kampung
    Kelak merayu, tetangga bertamu dan orang tua menunggu
    Sepertinya seratus telinga telah
    dibuka lebar-lebar—seperti saku baju dan celana—sekedar
    dengar kabar.

    Entah shubuh keberapa lewat
    Alarm berbunyi cepat
    Mengumpat mimpi yang tak sempat

    Dan ia pulang setelah menemui cara lain
    untuk berdandan: mandi air panas dan kulit dada
    yang disetrika, dirapikan seperti pakaian majikan

    Barangkali tak ada cerita, hanya kesah kekerasan
    –hanya kesah anjing yang dirantai dan dihantam
    cawan besi, dipukul gantungan baju
    Hingga lupa jalan setapak itu, setapak tanah air itu.

    Ciromed, 2005

    0 Responses to “Puisi: Jalan Setapak dari Tanah Air”

    Post a Comment

    Subscribe