Tuesday, 10 April 2007

0

Cerpen: Taman Air Mata 3

  • Tuesday, 10 April 2007
  • Unknown
  • Share
  • IX
    Tahun berganti. Siang cukup terang. Di gerbang taman, tampak seorang lelaki berdiri tegap. Tak lama kemudian muncul seorang perempuan menuntun anak kecil.
    “Delaila, jika Bapakmu besok berhasil mencairkan uang pinjaman untukku. Aku akan membangun proyek mall itu disini. Saat ini segala keperluan sudah disiapkan. Sebagai tahap awal, hari ini rencananya tempat ini akan diratakan. Kemarin, kawanku menyetujui proyek ini dan akan mengikuti bisnis ini dengan baik. Dia akan membangun hotel disebelahnya. Sebuah kerjasama yang bagus, kan?” ucap lelaki itu tersenyum puas. Perempuan yang dari tadi berdiri di sampingnya tersenyum dan memandang berkeliling.
    “Tapi tempat ini sangat jauh dari tempat tinggal kita, Mas.”
    “Ah, jangan khawatir.”
    “Hm, sudah lama aku gak ke kota ini. Kebetulan kita lewat ke tempat ini. Hm, aku jadi ingat, dulu aku punya kenalan seorang lelaki yang paling pandai membuat patung. Dulu ia sempat berjanji padaku membuat patung yang indah di tempat ini. Tapi aku gak sempat datang kesini lagi. Saat itu aku sibuk sekali dengan pekerjaanku. Aku sibuk cari uang. Saat itu aku juga sibuk dengan kepindahan rumah baruku. Hm, sekarang aku jadi penasaran melihat karyanya…” perempuan yang dipanggil Delaila itu mengenang.
    Keduanya tampak mulai berjalan menuju taman. Taman senyap.
    “Maksudmu patung itu.” Ucap lelaki itu menujuk sebuah sudut taman. Tampak dua buah patung dalam posisi duduk di bangku berlapis tembok. Perempuan itu tergesa menghampirinya.
    “Ya! Ya ampun, dia membuat patungnya sendiri. Bagus kan, Mas?”
    “Bagus! Tapi kok yang satunya gak punya kepala?”
    “Patah.”
    “Ya, patah.”
    “Itu kepalanya, Mas!”
    “Biar kuambil.”
    Lelaki itu mengambil potongan kepala yang tergeletak tak jauh dari tubuh patung. Lelaki itu mengangkatnya dan menempatkan di tubuh patung. Mereka terkesiap.
    “Mirip wajahmu, Delaila.”
    “Ya, mirip wajahku. Aku bilang apa, dia pandai membuat patung, Mas.”
    “Tapi sayang sekali, sebentar lagi patung-patung ini akan habis!” ucap lelaki itu terkekeh.
    Setelah cukup lama melihat patung, mereka akhirnya duduk dan bercakap-cakap disudut taman yang lain. Sementara anak kecil yang ikut bersama mereka berlarian di sekitar taman, bermain kerikil, tanah dan sesekali memanjati patung. Mereka berdua terus bercakap sampai akhirnya obrolan berhenti ketika anak kecil itu menangis keras.
    “Kenapa kau, sayang?” Delaila cemas lalu buru-buru menghambur merangkul anak itu. “Ia seperti ketakutan…”ucap lelaki itu sembari memandang sekeliling. Angin berhembus. Daun-daun berjatuhan.
    “Langit mendung, Delaila, hujan sepertinya akan turun. Kita harus segera pulang.”
    “Baiklah, Mas.”
    Mereka akhirnya berjalan gegas keluar dari taman. Tak jauh dari gerbang taman, mereka segera menaiki mobil sedan berwarna merah. Lelaki itu mulai melajukan mobilnya. Sementara anak itu terus menangis.
    “Kenapa kamu, sayang?” Tanya perempuan itu. “Kenapa kamu, sayang? Kamu tadi jatuh, ya? Atau mau jajan, ya?”
    Anak itu menangis terisak-isak. “Ma, patung tadi nangis…Putri takut.” ucap anak itu ditengah isaknya.
    “Duh, kirain apa. Mana ada patung menangis. Yang nangis itu kamu, sayang.” Ucap Delaila sembari mengecup pipi gembrot anaknya.
    “Patung tadi sangat indah, ya Mas? Duh, kemana perginya kawan lamaku itu, ya? Dulu, aku jatuh cinta pada patung-patungnya lho, Mas.”
    “Dulu sama pembuatnya kamu jatuh cinta gak?”
    “Ya gak, Mas. Dulu, aku sangat kasihan padanya…”
    “Kasihan? Kenapa?”
    “Orangnya penyendiri.”
    “Kalau sama aku, cinta gak?” Tanya lelaki itu mulai menggoda.
    “Ya cinta dong, Mas. Kalau kamu?” Delaila balas menggoda.
    “Tentu, sayang.” Ucap lelaki itu. Dalam hatinya lelaki itu tertawa, dan berkata: Uh, isteriku yang bodoh, aku hanya cinta pada uangmu…
    Anak mereka menangis lagi. Jalanan tiba-tiba macet. Lelaki itu kesal, marah-marah. Lalu ia membuka jendela mobil. Kepalanya menyembul keluar.
    “Bang, kenapa macet?!” Tanyanya pada pejalan kaki yang kebetulan lewat.
    “Di tengah jalan ada orang gila ngamuk. Ia bawa kapak. Ia berusaha menghalangi bouldozer!”
    “Terus?”
    “Warga sedang berusaha meringkusnya tuh.”
    “Ah, itu pasti bouldozer buat di taman.”
    Tak lama kemudian mobil-mobil perlahan melaju lagi. Dipinggir jalan, tampak puluhan warga tengah berusaha mengikat seorang lelaki tua. Ia terlihat berontak. Ia terdengar keras berteriak-teriak. Delaila memperhatikannya dari jendela mobil yang terbuka. Mobil melaju pelan. Truk angkutan barang berjalan gontai diatas jalan tak beraspal. Delaila masih mendengar orang gila itu teriak-teriak: “Apakah kau punya cinta?! Berapa harganya?! Apa kau punya cinta?! Berapa harganya?!” Saat mobil terus melaju, teriakan itu perlahan samar terdengar, ditelan jarak dan hingar. Delaila menghela napas panjang. Tangis anaknya mulai reda. Ia memeluknya, sampai ia merasakan sebuah benda di kantong kecil anaknya. Ia merogohnya. Sebuah jam tangan penuh tanah. Delaila mengerutkan kening.
    “Ini jam tangan siapa, sayang? Dari mana ini, sayang? Tanya Delaila keheranan.. Anak itu tak menjawab, malah menangis.
    “Mas, ini jam tangan siapa?”
    “Mungkin punya sopir kita…”
    Hujanpun turun, seperti hari-hari kemarin, mungkin esok juga. Lalu hari-hari dipergilirkan dan setiap orang gentar menyusuri rahasia hidup. Dan jika langit rinai dan hujan usai, betapa keheningan rekah diatas tanah basah taman itu. Hari terus berganti, orang-orang di kampung tak tahu, mereka cukup lama mengulur ingatan mereka sendiri. Terkadang mereka terhenyak dalam peristiwa, dan tak lama kemudian melupakannya dalam keseharian yang tawar. Tapi mereka tahu, tak ada lagi teriakan Sukidi disepanjang jalan kampung. Mereka tahu, orang gila itu telah telah dilumpuhkan. Kini ia tak berdaya dalam pasungan yang sengaja dibuat warga. Tapi, sesekali mereka akan mendengar tangis pilunya di taman itu jika kebetulan mereka lewat kesana. Mereka takut, sesekali juga kasihan. Mereka dengan setengah gentar pergi kesana, membawa makanan yang hanya berani mereka lemparkan lewat jendela pos jaga. Mereka juga berbondong-bondong kesana, hanya ingin melihat mobil besar penggali tanah yang tengah merombak taman. Ya, taman tengah dirombak besar-besaran, kecuali pos jaga. Tugu, lantai dan tembok-tembok taman juga dirombak, dihancurkan, kecuali salah satu patung. Konon, patung lelaki itu tak bisa dicabut dan dihancurkan. Tubuh patung itu seperti kokoh menancap dan menembus bumi. Tiga jengkal lantai dan tembok disekitar patung ikut mengeras melebihi baja dan cadas, merapat dengan bumi.
    Proyek pembangunan mall dan hotel akhirnya gagal. Pemilik modal untuk proyek mall khawatir dengan cerita aneh di tempat itu. Mereka takut apes dalam usahanya ke depan. Apalagi patung itu yang tak bisa dihancurkan itu tepat di tengah rencana berdirinya bangunan. Pemerintah akhirnya merenovasi taman itu. Pemerintah setempat akhirnya membiarkan patung itu tak dihancurkan, dibiarkan mengisi taman baru ini, meski pemerintah setempat membuat dinding tinggi berbentuk kubus untuk menutupinya, agar tak disalahgunakan lagi oleh sebagian penduduk.
    Setelah bulan demi bulan berganti, akhirnya beberapa warga menemukan catatan-catatan penting mengenai misteri patung itu dari sebuah meja dan ransel di pos jaga. Mereka menyebar berita tentang catatan-catatan itu satu sama lain. Kelak, catatan-catatan yang panjang itu akhirnya dibukukan oleh seseorang yang tertarik dengan kisah patung itu. Orang-orang membacanya, seperti sebuah novel. Orang-orang memahaminya, seperti buku pelajaran sekolah. Mereka terkejut mengetahui kisah patung itu. Mereka terkesiap. Obrolan panjang berkecambah. Mereka merangsak memenuhi taman, mencoba menerka-nerka rasa penasaran mereka. Mereka saling bercerita dan memberi kabar dengan dada yang tak henti berdebar. Mereka mengenang taman itu. Akhirnya, taman itu jadi terkenal dengan patungnya yang abadi, simbol cinta, kerinduan, kesetiaan dan penantian. Waktu berjalan, setiap orang terus membaca dan mengingat kisah patung anak muda yang dapat menangis itu. Hingga kelak, banyak orang menyebut taman itu sebagai…Taman Air Mata. []


    Cipadung, April 2007
    Di usiaku yang ke-24 tahun
    Untuk kekasihku yang tak pernah mengatakan cinta.

    0 Responses to “Cerpen: Taman Air Mata 3”

    Post a Comment

    Subscribe