Wednesday, 8 February 2006

0

Di Depan Pintu Cinta

  • Wednesday, 8 February 2006
  • Mifka Weblog
  • Share
  • Aku bersyukur tentang kekuatan cinta: merubah segalanya jadi hal yang baik, besarkan hati dan beri kekuatan. Tapi mereka bilang dengan penuh prasangka bahwa aku salah dan seseorang telah meutup pintu hatinya.

    Mereka bilang: “Kenapa cinta mesti dipaksakan?” Aku menunduk. Diam. Tapi aku harus belajar bahagia dapat mencintai seseorang, sekalipun ia tak pernah mencintaiku dan terasa jauh, menjauh.

    Bahwa demikian terasa indah dan sia-sianya pencarian ini, tapi berharga. Dengannya aku bermakna. Tertawa saja karenanya. Toh setiap hal mengira itu sebuah lelucon, kecuali hati yang mengerti.

    Aku percaya, ada sesuatu yang tetap aku pertahankan dalam hidup sesingkat ini. Tapi ia sesuatu yang tak bisa disebut. Hanya jika cinta utuh dimengerti, dengan bathin yang bersih, dengan doa.

    Tapi kenapa harus “selamanya tak akan terungkap-terjawab” seperti katanya. Siapa yang begitu angkuh menerka masa depan? Malang, harapan dan optimisme pun harus mati.

    Aku tahu, ada banyak hal yang perlu aku kerjakan. Ketukan di pintu hati seseorang yang tercinta belum juga bersahut. Tapi bukan berarti kalah. Aku memang mesti belajar merasa bahagia menerima kenyataan. Jangan benci, juga kecewa.

    Catatan Harian Rabu, 08 Februari 2006

    0 Responses to “Di Depan Pintu Cinta”

    Post a Comment

    Subscribe