Monday, 11 March 2002

0

Tegar = Teguh?

  • Monday, 11 March 2002
  • viddaily
  • Share
  • Dulu, ada lagu yang sangat popular dinyanyikan artis bersuara bagus bernama Rosa. Lagu itu berjudul: Tegar. Lagu yang disukai banyak orang. Bahkan, judul lagu itu seringkali jadi kata popular di masyarakat untuk menyebut keadaan seseorang yang teguh, sabar, pantang menyerah dan semacamnya.
    “Meskipun banyak dihina, dia tetap tegar.”
    Atau “Dia tetap tegar meski sang suami meninggalkannya selama setahun.”
    “Walaupun Asep sudah sebelas kali di tolak cinta oleh Wulan, tapi dia tetap tegar.”
    Saya pun semasa kuliah masih memakai “tegar” untuk sesuatu yang sangat positif, sampai akhirnya seseorang menegur saya. Apa yang salah?
    Di Tempo, tahun 2006, Goenawan Muhammad pernah menulis: saya mencoba terus menjaga agar kata “tegar” berarti “keras kaku”. Alasan saya: jika kata itu jadi padanan “teguh”, bahasa Indonesia akan kehilangan kata lain untuk mengartikan “rigid”
    Apa arti kata “tegar” sebenarnya? Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1976) kata itu berarti: “keras kaku,” “keras hati”; “keras kepala”; “tidak mau menurut”.
    Goenawan Muhammad menganggap kata “tegar” terjemahan yang bagus bagi kata inggris “rigid”—untuk menunjuk sikap yang tak luwes dan sebab itu kurang baik. Tapi makin banyak yang memakai kata “tegar” sebagai padanan kata “teguh”—yang merupakan sikap yang baik.
    Setelah saya tahu arti yang sebenarnya, saya merasa selama ini telah berbuat “dosa besar” terhadap bahasa. Ternyata saya masih belum berbahasa Indonesia dengan benar dan baik. Adakah “dosa” saya yang lain?

    0 Responses to “Tegar = Teguh?”

    Post a Comment

    Subscribe